Sabtu, 19 Mei 2012

PENINGKATAN KEMAMPUAN BACA TULIS AL QURAN


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

         Guru adalah motor utama yang mendapat tanggung jawab langsung untuk menterjemahkan kurikulum ke dalam aktifitas belajar mengajar (Soedijarto, 1993:58). Untuk itu guru perlu memiliki kemampuan personal, profesioinal dan kemampuan sosial untuk menunjang tugasnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemampuan tersebut diupayakan untuk dikembangkan dan ditingkat-kan agar mencapai tingkat profesi yang optimal. Proses pertumbuhan profesi dimulai sejak guru mulai mengajar dan berlangsung sepanjang hidup dan karier hidup (Piet A. Sehertian, 1994:7). Kesadaran guru untuk itu ternyata belum begitu nampak. Penelitian Budiyono terhadap 36 guru di Semarang menemu-kan bahwa belum semua guru menghabiskan waktu yang ada untuk keperluan profesionalnya, hanya 38,9% dari sebagian waktu yang ada (Budiyono, 1995:17).
         Tenaga yang profesional lebih mengutmaakan kemampuan merencanakan dan mengelola proses belajar mengajar yang kondusif bagi perkembangan peserta didik yang mengadakan perbaikan secara berkesinambungan dengan merefleksi diri terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Sebagai orang yang beriman kepada Allah SWT. dan memeluk Agama Islam seharusnyalah dapat mengetahui isi Kitab Al Qur’an dengan cara mempelajari/membaca kitab tersebut, karena membaca Al Qur’an merupakan perintah Allah SWT. sebagaimana tersurat dalam firman Allah Surat Al ’Alaq ayat 1 s/d 5 :
 







Artinya : Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhanmu yang paling pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Al Qur’an dan Terjemahan, 1984:1077).

         Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda :
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ (رواه لبخارى)
Artinya :  Sebaik-baik kamu adalah yang mau belajar membaca Al Qur’an dan mengajarkannya (HR. Bukhori), (Salim Bahreisy, 1986:123).
         Membaca Al Qur’an bagi umat Islam merupakan ibadah kepada Allah SWT. Oleh karena itu keterampilan membaca Al Qur’an perlu diberikan kepada anak sejak dini mungkin, sehingga nantinya diharapkan setelah dewasa dapat membaca, memahami dan mengamalkan Al Qur’an dengan baik dan benar.
         Pemberian pelajaran Al Qur’an sebaiknya melalui tri pusat pendidikan yaitu : keluarga, sekolah dan masyarakat, dimana yang paling dominan dan waktunya banyak adalah di dalam keluarga. Oleh karena itu yang paling menentukan berhasil/tidaknya anak dapat membaca Al Qur’an adalah pendidikan informal di tengah keluarga.
         Di sekolah perlu adanya pelajaran Al Qur’an, hanya saja waktu dan sarananya terbatasi, materi yang diberikan kepada siswa terbatas, jam pelajaran yang terbatas dalam kurikulum juga terbatas (hanya 2 jam pelajaran per minggu), disamping itu PAI tidak termasuk pelajaran yang di-EBTANAS-kan, sehingga siswa kurang mendapat pelajaran dengan maksimal serta kurang perhatiannya. Supaya siswa dapat membaca, memahami Al Qur’an dengan baik dan benar maka diadakan tambahan pelajaran Al Qur’an dengan metode KARIMAH. Pendidikan dalam masyarakat juga penting, karena anak lebih banyak bergaul dengan masyarakat yang dapat mempengaruhi sifat, watak dan perilakunya sehari-hari. Karena pentingnya pengetahuan tentang Al Qur’an, maka penulis berusaha mengangkat masalah ini menjadi obyek pembahasan penelitian dengan usaha penambahan pelajaran Al Qur’an di sekolah.
         Mengacu pada pemikiran dan realita yang ada, peneliti tertarik untuk memberikan tindakan yang membuat siswa dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan benar. Dorongan untuk membantu memecahkan masalah ini timbul karena melihat sendiri keadaan siswa kelas 7 D SMP Negeri I Ngemplak Boyolali. Harapannya selesai penelitian ini siswa dapat membaca ayat Al Qur’an dengan baik dan benar.

B.     Identifikasi Masalah

         Dari latar belakang masalah di atas permasalahan yang ada dapat di-identifikasikan sebagai berikut:
1.      Masih banyak siswa yang belum dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan benar.
2.      Ketidakmampuan membaca Al Qur’an dengan baik dan benar disebabkan karena kurang banyak latihan.
3.      Melalui metode karimah dapat meningkatkan kemampuan membaca Al Qur’an dengan baik dan benar.

C.    Pembatasan dan Rumusan Masalah

         Berdasarkan berbagai permasalahan tersebut di atas, perlu adanya pembatasan masalah sebagai berikut :
1.      Untuk meningkatkan kemampuan membaca Al Qur’an dengan baik dan benar diperlukan metode karimah
2.      Metode pengajaran yang dipilih untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca Al Qur’an dengan baik dan benar yaitu dengan metode Karimah, drill dan demonstrasi.
         Berdasarkan pembatasan masalah tersebut, dapat dirumuskan sebagai berikut :
“ Apakah dengan menggunakan metode karimah dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca Al Qur’an dengan baik dan benar?”

D.    Tujuan Penelitian

         Bertolak dari rumusan masalah di atas maka penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca Al Qur’an dengan baik dan benar melalui tambahan pelajaran Al Qur’an.

E.     Manfaat Hasil Penelitian

         Secara praktis penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan proses belajar mengajarnya terutama dalam meningkatkan kemampuan siswa membaca dan memahami Al Qur’an, di samping itu juga bermanfaat bagi siswa itu sendiri sehingga dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan benar serta dapat meningkatkan amal ibadah kepada Allah SWT, hasil penelitian ini juga bermanfaat bagi sekolah yang mengalami permasalahan yang hampir sama dan sejenis, sebagai batu pijakan dan per-bandingan untuk perbaikan proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Kajian Teori

1.      Pengertian Al Qur’an
         Al Qur’an adalah dasar dan pedoman hidup bagi umat Islam yang perlu dipelajari dan dimengerti serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, karena di dalamnya memuat berbagai aturan dan tatanan hidup manusia di dunia sampai di akherat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang berisi firman-firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantaraan malaikat Jibril untuk dibaca, difahami dan diamalkan sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi umat manusia (Depdikbud, 1993:28).
         Dalam mengartikan kata Al Qur’an sedikitnya ada dua golongan yang berbeda pendapat yaitu :
a.       Golongan pertama yang diwakili antara lain oleh Al Lihyani ber-pendapat bahwa Al Qur’an adalah bentuk masdar mahfudz mengikuti wazan Al Ghufran dan ia merupakan mustaq dari kata Qaraa yang mempunyai arti sama dengan tala. Al Qur’an bisa juga disebut Al Muq’ru yang merupakan sebutan bagi obyek dalam bentuk masdarnya.
b.      Golongan kedua yang diwakili antara lain oleh Az Zujaj berpendapat bahwa Al Qur’an diidentikkan dengan wazan Fu’lan yang merupakan musytaq dari lafal Al Qar’u yang mempunyai arti al jam’u. Ibnu Atsir juga berpendapat bahwa disebut Al Qur’an karena di dalamnya memuat kumpulan kisah-kisah. Amar ma’ruf nahi munkar, perjanjian, ancaman, ayat-ayat dan surat-surat lafal Al Qur’an adalah bentuk masdar seperti kata Ghufran dan Khufran (Atsir, IV, tt : 30). Dari beberapa pendapat tersebut mereka sepakat bahwa Al Qur’an adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, bagi yang membaca-nya merupakan ibadah dan mendapat pahala (Fahd Bin Abdurrahman Ar Rumi, terjemahan 1996:41).

2.      Nama-nama Al Qur’an
         Al Qur’an mempunyai banyak nama antara lain :
a.       Al Furqan artinya pembeda. Maksudnya bahwa Al Qur’an itu dapat membedakan antara yang hak dan yang batil seperti firman Allah dalam surat Al Furqan ayat 1 (satu) yang artinya : “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqan (Al Qur’an kepada hambanya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam” (QS. Al Furqan : 1).
b.      Al Kitab artinya kitab Allah. Maksudnya wahyu dari Allah sebagaimana Firman Allah yang artinya : “Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya, menjadi petunjuk bagi orang yang bertaqwa” (QS. Al Baqoroh : 2).
c.       Ad Dzikru artinya peringatan. Maksudnya bahwa Al Qur’an menjadi peringatan bagi semua manusia atas segala tindakannya yang tidak benar. Sebagaimana firman Allah yang artinya “Dan Aku (Allah) telah menurunkan Adz Dzikir (Al Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan kepada manusia apa-apa yang telah Aku turunkan kepada mereka” (QS. An Nahl : 44).

3.      Al Qur’an Sebagai Pedoman Hidup
         Al Qur’an disamping sebagai Ilmu dan Mu’jizat terbesar Nabi Muhammad SAW juga sebagai pedoman hidup manusia sepanjang masa, di dunia sampai di akherat. Ajaran Al Qur’an selalu sesuai dengan kepen-tingan dan kebutuhan hidup dan kehidupan manusia, oleh karena itu manusia disuruh mengikuti Al Qur’an. Sebagaimana dalam firmanNya dalam surat Al An’am : 155, yang artinya : “Dan inilah sebuah kitab yang Kami (Allah) turunkan yang diberkati, maka dari itu ikutilah dan bertaqwa-lah kamu (kepada Allah) supaya kamu diberi rahmat (QS. Al An’am : 155).
         Dalam surat lain Allah juga berfirman yang artinya : “Tidaklah cukup bagi mereka, sesungguhnya yang demikian itu menjadi rahmat dan peringatan bagi orang-orang yang beriman (QS. Al An Kabut : 51). Dari ayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa barang siapa mengikuti Al Qur’an maka mereka akan diberi rahmat dan peringatan dari Allah SWT. Mengikuti Al Qur’an berarti menjadikan Al Qur’an sebagai pegangan dan pedoman hidup, karena memang di dalam Al Qur’an memuat berbagai aturan tentang kehidupan manusia di dunia hingga akherat. Barang siapa mengikuti Al Qur’an maka hidupnya akan selamat dan sejahtera di dunia dan akherat kelak. Bahkan istri Rasulullah WAW, Siti Aisyah ketika ditanya sahabatnya tentang akhlak Rasulullah, beliau menjawab bahwa akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an.
         Rasulullan sendiri pernah bersabda yang artinya : “Telah kutinggalkan bagimu dua perkara yang tak akan tersesat jika kamu berpegang pada keduanya yaitu Kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnah RasulNya (HR. Ibn. Abdul Barri). (Moh. Rifa’i, 1980 : 183).

4.      Keutamaan Membaca Al Qur’an dan Cara Membacanya
         Tentang keutamaan dan kelebihan membaca Al Qur’an, Rasulullah telah menyatakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang maksudnya demikian : “Perumpamaan orang mu’min yang membaca Al Qur’an, adalah seperti bunga utrujjah, baunya harum dan rasanya lezat; orang mu’min yang tak suka membaca Al Qur’an, adalah seperti buah korma, baunya tidak begitu harum, tapi manis rasanya; orang munafiq yang membaca Al Qur’an ibarat sekuntum bunga, berbau harum, tetapi pahit rasanya; dan orang munafiq yang tidak membaca Al Qur’an, tak ubahnya seperti buah hanzalah, tidak berbau dan rasanya pahit sekali.”
         Dalam sebuah hadits, Rasulullah juga menerangkan bagaimana besar-nya rahmat Allah terhadap orang-orang yang membaca Al Qur’an di rumah-rumah peribadatan (masjid, surau, mushalla dan lain-lain). Hal ini dikuat-kan oleh sebuah hadits yang masyhur lagi shahih yang berbunyi sebagai berikut : “Kepada kaum yang suka berjemaah di rumah-rumah peribadatan, membaca Al Qur’an secara bergiliran dan ajar-mengajarkannya terhadap sesamanya, akan turunlah kepadanya ketenangan dan ketenteraman, akan terlimpah kepadanya rahmat dan mereka akan dijaga oleh malaikat, juga Allah akan selalu mengingat mereka” diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah). (Depag RI, 1984:122).
         Dengan hadits di atas nyatalah, bahwa membaca Al Qur’an, baik mengetahui artinya ataupun tdiak, adalah termasuk ibadah, amal shaleh dan memberi rahmat serta manfaat bagi yang melakukannya; memberi cahaya ke dalam hati yang membacanya sehingga terang benderang, juga memberi cahaya kepada keluarga rumah tangga tempat Al Qur’an itu dibaca. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Anas r.a., Rasullullah bersabda: “Hendaklah kamu beri nur (cahaya) rumah tanggamu dengan sembahyang dan dengan membaca Al Qur’an” (Depag RI, 1984: 122).
         Al Qur’an sebagai Kitab Suci, wahyu Ilahi, mempunyai adab-adab tersendiri bagi orang-orang yang membacanya. Adab-adab itu sudah diatur dengan sangat baik, untuk penghormatan dan keagungan Al Qur’an, tiap-tiap orang harus berpedoman kepadanya dalam mengerjakannya.
         Di antara adab-adab membaca Al Qur’an, yang terpenting ialah :
1.   Disunatkan membaca Al Qur’an sesudah berwudhu, dalam keadaan bersih, sebab yang dibaca adalah wahyu Allah. Kemudian mengambil Al Qur’an hendaknya dengant angan kanan; sebaiknya memegangnya dengan kedua belah tangan.
2.   Disunatkah membaca Al Qur’an di tempat yang bersih, seperti : di rumah, di surau, di mushalla dan di tempat-tempat lain yang dianggap bersih. Tapi yang paling utama ialah di masjid.
3.   Disunatkan membaca Al Qur’an menghadap ke qiblat, membacanya dengan khusyu’ dan tenang; sebaiknya dengan berpakaian yang pantas.
4.   Ketika membaca Al Qur’an, mulut hendaknya bersih, tidak berisi makanan, sebaiknya sebelum membaca Al Qur’an mulut dan gigi dibersihkan lebih dahulu.
5.   Sebelum membaca Al Qur’an, disunatkan membaca ta’awwudz, yang berbunyi : a’udzubillahi minasy syaithanirrajim. Sesudah itu barulah dibaca Bismillahirrahmanir rahim. Maksudnya, diminta lebih dahulu perlindungan Allah, supaya terjauh dari pengaruh tipu-daya syaitan, sehingga hati dan fikiran tetap tenang di waktu membaca Al Qur’an, terjauh dari gangguan-gangguan.
6.   Disunatkan membaca Al Qur’an dengan tartil, yaitu dengan bacaan yang pelan-pelan dan tenang.
7.   Bagi orang yang sudah mengerti arti dan maksud ayat-ayat Al Qur’an, disunatkan membacanya dengan penuh perhatian dan pemikiran tentang ayat-ayat yang dibacanya itu dan maksudnya.
8.   Dalam membaca Al Qur’an itu, hendaklah benar-benar diresapkan arti dan maksudnya.
9.   disunatkan membaca Al Qur’an dengan suara yang bagus lagi merdu, sebab suara yang bagus dan merdu itu menambah keindahan uslubnya Al Qur’an.
10.  Sedapat-dapatnya membaca Al Qur’an janganlah diputuskan hanya karena hendak berbicara dengan orang lain. Hendaknya pembacaan diteruskan sampai ke batas yang telah ditentukan, barulah disudahi. Juga dilarang tertawa-tawa, bermain-main dan lain-lain yang semacam itu, ketika sedang membaca Al Qur’an. Sebab pekerjaan yang seperti itu tidak layak dilakukan sewaktu membaca Kitab Suci dan berarti tidak menghormati kesuciannya. (Depag RI, 1984:125-128).

5.      Metode Membaca Al Qur’an 
a.    Macam-macam Metode Membaca Al Qur’an
Metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai. Kemampuan untuk memilih dan menetapkan suatu metode harus memiliki guru semenjak awal sehingga tidak salah dalam penggunaan metode tersebut. Pilihan suatu metode sangat bergantung pada :
1)      Tujuan yang ingin dicapai pada proses belajar mengajar.
2)      Siswa yang belajar, mengenai kemampuan dan latar belakangnya.
3)      Guru yang mengajar, mengenai kemampuan dan latar belakangnya.
4)      Keadaan proses belajar mengajar.
5)      Alat dan sarana yang tersedia. (Depag RI, 1994:85).

         Dalam penggunaan metode mengajar baca tulis Al Qur’an Mahmud Yunus mengemukakan 4 (empat) metode yaitu :
1)      Metode abjad yaitu mengajarkan huruf Al Qur’an dari nama-nama huruf, kata perkata kemudian kalimat.
2)      Metode suara yaitu ada kesamaan dengan metode abjad tetapi huruf diajarkan menurut bunyi.
3)      Metode kata-kata yaitu memperhatikan kata-kata yang dibacakan guru kemudian menirukannya.
4)      Metode kalimat yaitu dimulai dari kalimat, kemudian kata kemudian huruf. (Mahmud Yunus, 1981 : 6-20).
Sedangkan As’ad Humam berpendapat bahwa (1994:30) “Dengan metode iqro’ metode ini mengandung/mempunyai 10 (sepuluh) sifat yaitu : Bacaan langsung, CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), Privat/ Klasikal, Modul, Praktis, Asistensi, Sistematis, Variatif, Komunikatif, Fleksibel.”
b.   Tingkat-tingkat Membaca Al Qur’an
         Membaca Al Qur’an adalah kewajiban setiap umat Islam dan barang siapa yang membacanya merupakan amal ibadah yang akan mendapat pahala dari Allah SWT., maka belajar membaca Al Qur’an hendaklah dimulai dari semenjak kecil, sebaiknya dari semenjak usia 5 atau 6 tahun (Depag RI, 1984:128).
         Sedangkan Rasulullah SAW bersabda : Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang mau belajar Al Qur’an dan mengajarkannya (Salim Bahreusyi, 1986:123).
         Membaca huruf-huruf Al Qur’an berarti mengenal dan memahami serta melafalkan jumlah huruf-huruf dalam Al Qur’an sebanyak 29 buah (Muhammad Anwar, 1988:5).
         Adapun tingkat kemahiran membaca Al Qur’an secara sederhana dibagi menjadi beberapa tingkat yaitu :
1.      Tingkat dasar yaitu dapat membaca Al Qur’an secara sederhana (belum terikat oleh tajwid dan lagu).
2.      Tingkat menengah yaitu dapat membaca Al Qur’an dengan mengikuti tanda baca dan cara lain sesuai dengan tajwid.
3.      Tingkat maju yaitu dapat membaca Al Qur’an dengan bacaan dan lagu yang baik sesuai dengan bentuk-bentuk lagu.
4.      Tingkat mahir yaitu dapat membaca Al Qur’an dalam berbagai cara (qiraat) (Depag RI, 1993:1).

B.     Kajian Hasil Penelitian

           Kemampuan membaca Al Qur’an dapat meningkat apabila ada kemauan untuk belajar efektif dan kreatif disamping adanya guru yang mampu mem-bimbingnya. Supaya transformasi pengetahuan dapat sampai kepada pikiran siswa memerlukan dua hal penting yaitu : adanya kemampuan pengajar, adanya kesiapan siswa.
           Proses Belajar Mengajar (PMB) tidak akan berhasil apabila pengajar tidak mempunyai kemampuan mengungkapkannya dengan benar dan hati murid tidak siap menyambut dengan terbuka pintunya guna memasukkan materi ilmu tersebut, sedang terbukanya pikiran siswa adalah proses kerjasama antara guru dan murid (Fahd bin Abdurrahman ar Rumi, 1996:194).
           Kemampuan pengucapan Al Qur’an harus dimulai dari mengenal membaca,       memahami dan melafadzkan jumlah huruf dalam Al Qur’an (Muhammad Anwar, 1988:5). Untuk dapat memahami dan melafadzkan Al Qur’an dengan baik dan benar perlu proses pembelajaran yang efektif dan memerlukan kesadaran, praktek, pengalaman dan latihan bukan karena secara kebetulan (Nana Sudjana, 1990:5).
           Supaya siswa dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan benar harus dimulai semenjak kecil dengan mengenalkan dan melafadzkan huruf Al Qur’an secara rutin dan efektif. Sebab apabila tidak dimulai semenjak kecil dan sedini mungkin setelah besar akan sulit melafadzkan huruf Al Qur’an secara benar, karena pengucapan dan melafadzkan Al Qur’an. Reliata menunjukkan bahwa siswa kelas 7 D SMP Negeri 1 Ngemplak Boyolali masih banyak yang belum dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan benar, yang disebabkan kurangnya proses pembelajaran dan latihan pengucapan huruf Al Qur’an. Walaupun seusia mereka masih dapat dibimbing dan dilatih membaca Al Qur’an tetapi dengan syarat adanya kemauan belajar yang kuat dan latihan yang efektif.
           Al Qur’an diturunkan ke dunia ini memang harus dipahami sebagaimana perintah Allah SWT yang artinya : Sesungguhnya Kami menurunkan Al Qur’an dengan bahasa arab agar kamu memahaminya (QS. Yusuf : 20).
           Berdasarkan teori dan realita di atas maka dapatlah digambarkan kerangka berpikir sebagai berikut:
 











Gambar 1. Kerangka Berpikir
           Dalam hal ini guru perlu menyusun rancangan pengajaran yang dapat berbentuk SP (Satuan Pelajaran) atau semacamnya yang memungkinkan terciptanya interaksi belajar mengajar dan melatihkan anak untuk meningkatkan kemampuannya dalam mempelajari Al Qur’an.
           Di dalam Kurikulum PAI (Pendidikan Agama Islam) tahun 1994 disebutkan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam adalah : Meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan siswa tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Depag RI, 1993/1994:1).
           Untuk mencapai tujuan tersebut khususnya dalam membaca Al Qur’an disebutkan bahwa setelah siswa lulus SMP diharapkan mampu membaca Al Qur’an dan menulisnya dengan benar serta berusaha memahaminya (Depag RI, 1993/1994:4). Namun demikian 2 jam pelajaran yang disediakan dalam kurikulum untuk mata pelajaran PAI (Pelajaran Agama Islam) dirasa tidak cukup untuk mencapai tujuan tersebut, maka perlu diadakan tambahan jam pelajaran, supaya tujuan tersebut tercapai.
           Guna menjawab permasalahan di atas, maka profesionalitas guru dalam upaya peningkatan kemampuan siswa membaca Al Qur’an perlu ditingkatkan. Profesionalisme perlu dibahas karena berkaitan dengan upaya guru untuk memperbaiki metode pembelajarannya, sehingga mencapai hasil belajar yang optimal. Sedangkan usaha meningkatkan kemampuan siswa juga perlu dibahas, karena erat kaitannya dengan usaha guru untuk meningkatkan profesionalisme perbaikan pembelajaran, penyusunan perencanaan pengajaran dengan peng-optimalan penggunaan metode karimah serta pemberian motivasi.
           Guru adalah jabatan profesional, dimana menuntut penguasaan wawasan yang mendasari ketrampilannya yang menyangkut filosofis, pertimbangan rasional dan memiliki sikap positif dalam melaksanakan memperkembangkan mutu karyanya (T. Raka Joni, 1980:6). Disamping itu profesional memiliki makna adil (ekspert), tanggung jawab (responsibility) dan memiliki rasa kesejawatan (Piet A. Sahertian, 1994:30). Dengan demikian seorang guru haruslah ahli dalam bidang yang diajarkannya dan ahli dalam mendidik, memiliki rasa tanggung jawab terhadap dirinya, murid, orang tua, masyarakat, bangsa dan negara, sesama manusia dan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta memiliki rasa kesejawatan dengan menjunjung tinggi korps dan meningkatkan citra guru.
           Peningkatan profesionalisme guru adalah upaya atau kegiatan yang dilakukan guru untuk mencapai tingkat profesi yang optimal. Mereka yang sudah menjadi guru masih terus membutuhkan pembinaan dan pengembangan profesi. Pertumbuhan jabatan dikaitkan dengan peningkatan proses belajar mengajar. Dalam mengembangkan dan meningkatkan diri guru mengikuti penataran-penataran, pelatihan, lokakarya, mengikuti pendidikan lagi, membaca atau belajar sendiri. Peningkatan profesionalisme guru dapat tumbuh dari segi eksternal yaitu pimpinan mendorong guru untuk mengikuti penataran atau kegiatan akademik, dan dari segi internal, dimana guru belajar sendiri untuk bertumbuh dalam jabatannya (Haris dan Oliva, 1981:350). Jika guru tidak menambah pengetahuannya yang baru maka ibarat tanaman, guru itu menjadi gersang. Kepekaan guru terhadap masalah-masalah yang dihadapi di kelasnya dan cepat bertindak merupakan cerminan guru yang profesional.
           Perbaikan pembelajaran melalui refleksi diri terhadap pembelajaran yang telah dilakukan dan peningkatan kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah kelas merupakan peningkatan profesionalisme. Guru tidak hanya sekedar menyajikan bahan-bahan pelajaran untuk dihafal dan kemudian diukur tingkat penguasaannya, tetapi lebih dari itu, guru harus merencanakan, mengelola, memimpin dan menilai proses belajar dalam berbagai bidang pelajaran untuk tumbuhnya berbagai sikap, kemampuan dan keterampilan pada berbagai bidang kehidupan (Soedijarto, 1992:83).
















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 

A.    Objek Tindakan
           Yang menjadi objek tindakan dalam penelitian ini adalah usaha peningkatan kemampuan membaca Al Qur’an melalui tambahan pelajaran Al Qur’an. Adapun penelitian ini dilakukan melalui siklus yang berdaur ulang dan berkelanjutan, serta direncanakan dengan melaksanakan tiga siklus. Setiap siklus dengan tiga tindakan yaitu penanaman konsep membaca melalui huruf hijaiyah yang dirangkaikan dalam bentuk bunyi kalimat/kata dengan latihan bersuara/ pengucapan huruf-huruf tersebut, penciptaan kondisi dan pemberian kesempatan untuk membaca ayat Al Qur’an yang dilakukan dengan wujud pengembangan belajar kreatif dan pengoptimalan penggunaan metode iqro’, drill, dan demonstrasi. Setiap siklus meliputi tahapan observasi dan perencanaan tindakan, implementasi tindakan dan monitoring penelitian, refleksi hasil penelitian dan pengembangan.

B.     Subjek Penelitian
         Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di kelas VII D,  SMP Negeri 1 Ngemplak tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 40 siswa terdiri dari 20 siswa putri dan 20 siswa putra. Aktor utamanya adalah guru Pendidikan Agama Islam kelas VII D.

C.    Metode Pengumpulan Data
         Di dalam penelitian untuk mendapatkan data dalam suatu penelitian masalah yang ilmiah banyak cara yang ditempuh, dengan tujuan agar data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan. Adapun metode-metode dalam pe-nelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Metode Dokumentasi.
2.      Metode Angket.
3.      Metode Interview.
4.      Metode Observasi.
         Untuk lebih jelasnya maka di bawah ini akan penulis uraikan satu persatu sebagai berikut :
1.      Metode Dokumentasi.
“Dokumentasi dari asal kata dokumen yang artinya barang-barang tertulis” (Suharsimi Arikunto, 1993:89).
Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki terutama berupa arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku yang berkaitan dengan masalah penelitian ini. Adapun yang penulis maksud dalam dokumen ini adalah daftar siswa. 
2.      Metode Angket.
Yang dimaksud Angket adalah : “suatu daftar pertanyaan yang harus dijawab atau dikerjakan oleh orang yang menjadi sasaran angket” (Bimo Walgito, 1985:16).
Di dalam penulisan angket ini penulis pergunakan dengan angket tertutup dan diberikan tidak langsung pada subyek, akan tetapi melalui guru Pendidikan Agama Islam yang penulis selidiki.
          Di dalam penelitian ini dipakai metode angket sebagai metode utama dalam pengumpulan data, dimana data tersebut adalah mengenai usaha guru dalam meningkatkan kemampuan siswa membaca Al Qur’an melalui tambahan pelajaran Al Qur’an.
3.      Metode Interview.
“Metode interview adalah usaha mengumpulkan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan, untuk dijawab secara lisan pula” (Hadari Nawawi, 1987:27).
          Adapun jenis interview yang penulis pergunakan adalah “Interview bebas terpimpin.” Dalam hal ini penulis bukan saja sebagai pengumpul data melalui tanya jawab, tetapi metode ini hanya sebagai metode bantu dari pada metode angket yang penulis pergunakan sebagai metode pokok. Dari interview ini penulis dapat mengetahui lebih jelas tentang bagaimana usaha peningkatan kemampuan membaca Al Qur’an melalui tambahan pelajaran Al Qur’an.
4.      Metode Observasi.
          Metode observasi ini adalah “Suatu metode atau cara untuk me-ngumpulkan data yang diinginkan dengan pengamatan secara langsung” (Abu Ahmadi, 1976:91).
          Dengan metode ini dimaksudkan penulis dapat mengetahui secara jelas dari subyek penelitian, maka secara langsung peneliti (penulis) dapat mengamati hal yang ada hubungannya dengan masalah yang penulis jadikan alat bantu utama dalam kebenaran data.
Adapun jenis teknik observasi adalah sebagai berikut :
a.       Observasi patisipan – non partisipan.
b.      Observasi sistematis – non sistematis.
c.       Observasi eksperimental – non eksperimental.
ad.a.  Observasi partisipan – non partisipan
          Suatu observasi disebut partisipan jika orang yang mengadakan observasi turut ambil bagian dalam perikehidupan orang atau orang-orang yang diobservasi. Kata partisipan mempunyai arti yang penuh jika observer betul-betul turut berpartisipasi, bukan hanya pura-pura semata. Jika unsur partisipasi sama sekali tidak terdapat di dalamnya, observasi itu disebut non partisipan observation.
ad.b.  Observasi sistematis – non sistematis.
          Isi dan luas yang akan diobservasi dalam observasi sistematik umumnya lebih terbatas. Persoalan-persoalan sudah dirumuskan secara teliti pula.
Jenis-jenis gejala atau tingkah laku tertentu yang timbul dapat dihitung dan ditabulasikan.
ad.c.  Observasi eksperimental – non eksperimental.
          Dalam observasi eksperimental, bahwa observer dihadapkan pada situasi perangsang yang dibuat seseragam mungkin untuk semua observer. Oleh karena itu observasi eksperimental dipandang orang sebagai cara penyelidikan yang relatif murni untuk menyelidiki pengaruh kondisi-kondisi tertentu terhadap tingkah laku manusia.
           Adapun jenis observasi yang penulis pergunakan adalah “Teknik observasi sistematik karena dalam hal ini metode observasi penulis pergunakan sebagai metode bantu, yang sekaligus akan memberikan kemungkinan dalam penulis mencari data, sampai sejauh mana tentang usaha peningkatan kemampuan membaca Al Qur’an melalui tambahan pelajaran Al Qur’an.

D.    Metode Analisis Data
         Setelah penulis mendapatkan data-data selanjutnya dianalisa dengan analisa Diskriptif Prosentase dengan menggunakan rumus :
         Prosentasi = x 100%
Keterangan :
f    = Fekwensi/alternatif jawaban.
N   = Jumlah populasi.

E.     Cara Pengambilan Kesimpulan
         Pengambilan kesimpulan dilakukan dengan cara menggunakan analisis deskriptif prosentase yaitu dengan membandingkan siklus sebelumnya dengan siklus berikutnya dari siklus I tindakan 1 sampai dengan siklus IV tindakan 3. Hasil analisis tersebut digunakan untuk mengambil kesimpulan ada tidaknya peningkatan kemampuan siswa dalam membaca Al Qur’an melalui tambahan pelajaran Al-Qur’an.








BAB IV
HASIL PENELITIAN

A.    Gambaran Selintas tentang Setting
         Setting yang dipakai dalam penelitian dengan model proses, dalam satu model ditetapkan dengan tiga proses penelitian atau siklus, yang masing-masing siklus terdiri dari tiga tindakan. Tindakan pertama adalah penanaman pengetahuan mempelajari Al Qur’an melalui koinsep, prinsip, teknik iqro’ dan sebagainya. Tindakan ketiga adalah memberi motivasi dan tugas membaca dan menulis Al Qur’an. Dalam setiap siklus terdapat empat tahapan yaitu : melaksanakan tindakan, memantau proses belajar mengajar, mengevaluasi hasil pemantauan, dan mengadakan refleksi, meneliti kembali tindakan yang telah dilakukan. Semua ini terus dilakukan berdaur ulang. Sebelum melangkah ke siklus selanjutnya perlu memperhatikan dan mengacu pada keberhasilan siklus sebelumnya dan berikutnya. Setiap tindakan dalam suatu siklus, dapat meningkatkan kemampuan membaca Al Qur’an dan penambahan frekuensi dibandingkan dengan siklus sebelumnya.

B.     Uraian Penelitian Secara Keseluruhan
         Kegiatan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan mulai tanggal 2 September 2003 dengan diawali kegiatan observasi sebagai penjajagan untuk memperoleh informasi dan gambaran terhadap permasalahan serta tindakan yang telah dilakukan oleh guru kemudian dilanjutkan dengan membahas hasil-hasil observasi, merencanakan dan menetapkan tindakan.
         Rancangan penelitian ini menggunakan model proses. Proses penelitian putaran I atau siklus I dilaksanakan pada tanggal 21 s/d 26 Juli 2008, siklus II dilaksanakan pada tanggal 4 s/d 9 Agustus 2008, siklus III dilaksanakan pada tanggal 19 s/d 23 Agustus 2008 dan siklus IV dilaksanakan pada tanggal 1 s/d 6 September 2008.
           Dan penelitian ini dilaksanakan di luar jam pelajaran formal yaitu 2 kali seminggu pada setiap hari Rabu  mulai jam 12.00 WIB s/d 13.30. WIB dan hari Jumat 13.30 WIB s.d. 15.00 WIB.  Adapun rencana tindakan guru, kepala sekolah dan peneliti dalam setiap siklus sebagai berikut :
Tabel 1. Rencana Tindakan
Tindakan Guru
Tindakan Siswa
Tindakan Penelitian
Siklus I
1.      Melaksanakan tindakan
a.    Menanamkan pengetahu-an tentang pentingnya mempelajari Al Qur’an (konsep, prinsip, teknik/ iqro’, dsb.) dilaksanakan pada minggu I.
b.   Menerapkan pembelajaran dengan mengoptimalkan penggunaan metode Karimah dan menerapkan belajar kreatif tingkat I mengguna kan metode drill. Dilaksanakan pada waktu istirahat I dan II
c.    Memberi motivasi dan tugas membaca/menulis Al Qur’an.
2.         Memantau proses belajar mengajar. Sambil mengajar mengamati tindakannya dan mencatat peristiwa yang di-anggap penting untuk me-ngetahui tingkat perubahan terhadap tindakan yang dilakukan.


Memahami dan mulai merespon tentang pentingnya membaca Al Qur’an dan makna-nya.

Berlatih membaca dan memahami Al Qur’an.





Termotivasi untuk membaca/menulis Al Qur’an.



Mengamati dengan menggunakan lembar pengamatan tentang pentingnya mempe-lajari Al Qur’an.

Mengamati dan men-catat kemampuan siswa membaca Al Qur’an.




Mengamati dan men-catat tindakan/reaksi siswa.
Memantau perilaku guru dan murid untuk mengetahui tingkat ke-tercapaiannya tujuan, dampaknya dan efekti-fitas perbaikan pembe-lajaran.

3.      Mengevaluasi hasil peman-tauan. Mengolah data yang dapat direkam dan memakai-nya serta menentukan keber-hasilan dan pencapaian tujuan tindakan ataupun hasil sampingan dari pelaksanaan tindakan.
4.      Mengadakan refleksi I. Meneliti kembali tindakan yang telah dilakukan.



Mengolah data dan memaknainya serta menentukan tingkat keberhasilan tindakan.




Membantu guru untuk merefleksikan diri me-ngenai tindakan kelas yang telah dilakukan.
Siklus II
1.      Merumuskan tindakan baru. Berdasarkan temuan pada tahap evaluasi tentang bentuk perubahan yang perlu ditindaklanjuti, menyusun rancangan tidnakan.
2.      Melaksanakan tindakan. Mengulang tindakan pada siklus I dan memberi pe-nekanan pada pengoptimalan penggunaan emtode Karimah dan drill serta penerapan belajar kreatif.









Lebih baik bacaannya dan tulisannya serta mencoba untuk mengembangkan imajinasinya.

Bersama-sama meran-cang tindakan baru berdasar hasil evaluasi tentang perubahan yang perlu ditindaklanjuti.

Mengamati dan men-catat tindakan guru dan tanggapan murid.


3.      Mengawasi hasil pemantauan
a.       Mengolah data sebelum dan setelah tindakan.
b.      Membandingkan perubahan setelah dan sebelum tindakan.
c.       Menemukan bentuk-bentuk perubahan yang perlu ditindaklanjuti.
d.      Mengadakan refleksi II. Meninjau kembali tentang apa yang telah dilakukan.



Mengolah data dan me-maknainya, menentu-kan tingkat perubahan tindakan.




Membantu guru untuk merefleksikan diri.
Siklus III
1.      Merumuskan tindakan baru. Merencanakan mengulang tindakan pada siklus II dan mempertajam penerapan belajar kreatif.
2.      Melaksanakan tindakan.
3.      Mengevaluasi hasil tindakan.
4.      Mengadakan refleksi.






Baik bacaan, tulisan dan pemahamannya tentang Al Qur’an.

Memberikan pertim-bangan tindakan yang perlu dipertajam dan kemungkinan tindakan baru.
Mengamati dan men-catat hal-hal yang terjadi.
Mengolah dan memak-nai data.
Membantu guru untuk merefleksi dan memacu guru untuk selalu merefleksi diri setiap melakukan proses belajar dan mengajar.

         Adapun kegiatan dan pengamatan yang dilakukan peneliti dalam setiap siklus adalah sebagai berikut :
a.       Kegiatan Guru : Guru kelas III sebagai aktor utama dalam penelitian tindakan kelas ini melakukan serangkaian tindakan yaitu menanamkan pentingnya membaca Al Qur’an dan memahami maknanya dengan meminta siswa untuk belajar membaca Al Qur’an di rumah.
Guru memberikan stimulus bahwa orang yang membaca Al Qur’an akan mendapat pahala dari Allah SWT dan masuk surga. Disamping itu guru menyiapkan rencana pembelajaran yang memungkinkan siswa mampu membayar ayat Al Qur’an dengan metode iqro’ dan belajar kreatif.
Pada waktu melakukan tindakan, guru juga merekam apa yang telah dilaku-kan dan reaksi siswa dengan menggunakan lembar pengamatan dan catatan-catatan kecil tentang peristiwa yang terjadi. Pada waktu refleksi guru melihat kembali apa yang telah dilakukan dengan bantuan peneliti yang lain dan hasil rekaman tindakan yang telah dilakukan baik dengan catatan, lembar pengamatan atau memutar kembali rekaman pita kaset dan bersama-sama dengan peneliti yang lain berdiskusi dan menyusun rencana tindakan untuk siklus berikutnya.
b.      Kegiatan siswa : Siswa sebagai subyek yang dikenai tindakan diharapkan tumbuh dan mampu membaca ayat Al Qur’an, mengikuti dan mengadakan reaksi terhadap setiap tindakan guru. Siswa mempelajari Al Qur’an di rumah kemudian menceritakan pengalamannya. Serta kesulitan yang dialami yang nantinya dapat dicari jalan pemecahannya dan akhirnya mampu membaca Al Qur’an dengan baik dan benar.
c.       Kegiatan peneliti yang lain: pada waktu guru memberikan tindakan, peneliti yang lain secara bergantian (dua orang – dua orang) melakukan pengamatan dengan menggunakan lembar pengamatan dan mencatat reaksi siswa terhadap tindakan guru. Peneliti pada waktu kegiatan refleksi membantu guru untuk merefleksi dengan memberi masukan atau cermin terhadap tindakan yang telah dilakukan. Peneliti juga bersama dengan guru berdasar-kan hasil refleksi menyusun rencana tindakan untuk siklus berikutnya.
d.      Kegiatan Kepala Sekolah : Memberikan pembinaan dan masukan kepada guru dan peneliti yang lain dalam setiap tindakan, agar peneliti yang lain dalam setiap tindakan, agar penelitian yang dilakukan sesuai dengan sasaran yang diinginkan. Pemantauan yang dilakukan oleh peneliti pada saat guru melakukan tindakan untuk setiap siklus dengan menggunakan lembar pengamatan dan catatan untuk merekam reaksi siswa dan tindakan guru.
Lembar pengamatan digunakan untuk mengkafer frekuensi siswa dalam membaca ayat Al Qur’an, sedangkan catatan dipergunakan untuk mencatat reaksi siswa dan kesulitan yang muncul. Setiap siklus diakhiri dengan tahapan refleksi. Peneliti terlibat dalam kegiatan pemaknaan dan pengem-bangan serta membantu guru dalam kegiatan refleksi.
         Data yang diperoleh dianalisis deskriptif prosentase dan untuk menge-tahui perubahan peningkatan siswa dalam membaca Al Qur’an dilakukan dengan membandingkan tindakan sebelumnya. Kemudian dibahas bersama dengan harapan masing-masing akan dapat mengungkap tindakan yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari Al Qur’an. Dari hasil tersebut ditindaklanjuti dengan upaya pengembangan pada tindakan-tindakan yang mungkin dapat ditindaklanjuti dan dikembangkan.
         Jika rencana tindakan berdasarkan pemaknaan dan pengembangan tidak menghasilkan perubahan yang dapat menumbuhkan kemampuan siswa untuk membaca Al Qur’an, maka rencana tindakan untuk siklus berikutnya perlu direvisi dengan tindakan baru yang dapat menghasilkan perubahan yang dapat  meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca dan mempelajari Al Qur’an dengan baik dan benar.

C.    Penjelasan Per Siklus
1.      Siklus I
Tindakan I. Guru menanamkan pentingnya dapat membaca Al Qur’an akan mendapat pahala dari Allah SWT dan dapat masuk surga.
Pada tindakan ini guru menuliskan QS. Ad-Dhuha ayat 1 s.d. 11  di papan tulis, kemudian membacakannya serta murid mendengarkan dengan seksama.
Tindakan II. Menyusun rencana pembelajaran dan melaksanakannya dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menirukan ucapan guru tentang bacaan QS Ad-Dhuha ayat 1 s.d. 11   secara bersama-sama dan satu persatu.
Tindakan III. Memotivasi siswa baik secara verbal maupun nonverbal (senyuman, anggukan dan kata bagus atau benar).
2.      Siklus II
Tindakan I : Menanamkan pentingnya membaca Al Qur’an dan menerang-kan arti serta maksud bacaan QS. At Tiin ayat 1 s.d. 8 dan menugaskan siswa untuk mempelajari dan mempersiapkan materi untuk pertemuan berikutnya.
Tindakan II. Merencanakan pembelajaran dan melaksanakan dengan metode Karimah, drill dan demonstrasi serta memberi kesempatan kepada siswa untuk membaca QS. At Tiin ayat 1 s.d. 8   satu persatu.
Tindakan III. Memberi motivasi dengan memberi nilai kepada siswa yang telah selesai membaca QS. At Tiin ayat 1 s.d. 8
3.      Siklus III
Tindakan I. Mengingatkan pentingnya membaca Al Qur’an dengan baik dan benar, menugaskan kepada siswa untuk membaca dan mengartikan QS.Ash-Shof ayat 1 s.d. 10 serta menerangkan bacaan yang mengandung tajwid.
Tindakan II. Merancang dan melaksanakan pembelajaran membaca QS. Ash-Shof ayat 1 s.d. 10  dengan mengoptimalkan penggunaan metode KARIMAH, drill dan demonstrasi. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mendemons-trasikan bacaan Al Qur’an serta belajar kreatif (satuan pelajaran kreatif, terlampir).
Tindakan III. Pemberian motivasi dengan memberi pujian dan nilai kepada siswa yang telah selesai membaca dan mengetahui artinya.
4.      Siklus IV
Tindakan I. Mengingatkan pentingnya membaca Al Qur’an dan meminta kepada siswa untuk membaca materi pelajaran yang telah diberikan satu persatu.
Tindakan II. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk berlatih membaca ayat Al Qur’an dan merancang serta melaksanakan pembelajaran dengan sistem CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), kemudian memberi nilai dan pujian kepada siswa yang telah selesai membaca Al Qur’an.
Tindakan III. Memberikan motivasi berupa pujian dan rangsangan agar siswa senang membaca Al Qur’an, sehingga dapat dilaksanakan setiap saat dan setiap ada kesempatan, sehingga membaca Al Qur’an merupakan bagian dari kebutuhan hidupnya.

D.    Proses Menganalisis Data
         Setelah melaksanaakan dan menyelesaikan tindakan pada setiap siklus, tim peneliti melakukan diskusi dan mengadakan refleksi. Peneliti dapat memberikan laporan hasil pantauannya sehingga dapat direfleksi pembelajaran yang telah dilakukannya. Dari hasil pantauan tersebut dapat dilihat frekuensi siswa dalam membaca ayat Al Qur’an yang kemudian dapat dilakukan proses analisis data.
Tabel 2.  Frekuensi Membaca Ayat Al Qur’an Siswa Kelas 7 D SMP Negeri 1 Ngemplak Kabupaten Boyolali
Siklus
Tindakan
Membaca
Tidak dapat
Dapat
Dapat/faham
I
1
2
3
36
30
28
4
10
12
3
6
9
Rata-rata
-
31
8
6
II
1
2
3
26
22
19
14
18
21
12
16
18
Rata-rata
-
22
17
15
III
1
2
3
15
12
8
25
28
32
22
25
28
Rata-rata
-
11
21
25
IV
1
2
3
5
3
1
35
37
39
33
36
38
Rata-rata
-
3
37
39

         Dari tabel 2 dapat dilihat hasil tindakan pada setiap siklus. Pada siklus I dari 40 siswa ada 36 siswa yang tidak dapat membaca ayat Al Qur’an, berarti ada 90%. Yang dapat membaca ayat Al Qur’an ada 4 siswa berarti ada 10% dan yang sudah dapat membaca dan faham ayat Al Qur’an ada 3 siswa berarti ada 7,5%.
         Setelah diadakan diskusi dan guru mengadakan refleksi terhadap tindakannya ditemukan bahwa siswa kurang latihan membaca Al Qur’an di rumah. Materi membaca Al Qur’an yang diberikan di sekolah sangat kurang, sehingga materi yang diterima siswa juga kurang sekali disamping minat baca Al Qur’an siswa yang rendah. Berdasarkan hasil analisis dan refleksi tersebut disusun rencana pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan memahami ayat Al Qur’an.
         Pada siklus I tindakan ke 2, dari 40 siswa yang tidak dapat membaca ayat Al Qur’an menurun menjadi 30 siswa berarti 75 % atau turun 15%. Yang dapat dan faham membaca ayat Al Qur’an ada 6 siswa berarti 15 % atau naik7,5 %. Penguasaan membaca siswa nampak ada kelebihan, karena guru telah membacakan terlebih dahulu dan siswa menirukannya, kemudian guru memberi kesempatan kepada siswa untuk membaca bersama dan sendiri-sendiri.
         Berdasarkan hasil analisis dan refleksi tersebut, dirancang untuk tindakan berikutnya, tetap pada rancangan tindakan 1 dan 2 ditambah dengan pemberian motivasi (senyum, anggukan, dan kata bagus/benar) pada setiap siswa yang telah selesai membaca ayat Al Qur’an. Untuk tindakan ke 3 dari siklus I yang tidak dapat membaca ayat Al Qur’an menurun lagi menjadi 28 siswa 70 % atau turun 5 %. Yang dapat membaca Al Qur’an ada 12 siswa (30 %) atau naik 5,93%, yang dapat dan faham membaca ayat Al Qur’an ada 9 siswa (22,5 %) berarti naik 5,19%.
         Rata-rata siswa dalam membaca Al Qur’an pada siklus I, yang tidak dapat membaca Al Qur’an adalah 31 siswa (77,5 %), yang dapat membaca ayat Al Qur’an ada 8 siswa (20 %) dan yang dapat/faham membaca ayat Al Qur’an ada 6 siswa (15 %). Meski demikian, pada siklus I ini sudah mulai nampak adanya kemajuan/peningkatan siswa dalam membaca Al Qur’an.
         Setelah siklus I berakhir, dilaksanakan diskusi dan refleksi untuk menyusun tindakan pada siklus II. Dalam refleksi tersebut dapat diungkapkan bahwa guru mersa masih belum memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca ayat Al Qur’an yang lebih banyak lagi. Oleh karena itu pada siklus I, dengan lebih memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar membaca dan memahami Al Qur’an dengan pengoptimalan metede iqro’.
         Dari tabel 2 dapat dilihat untuk siklus II tindakan I, bahwa yang tidak dapat membaca ayat Al Qur’an 26 siswa (65%), yang dapat membaca 14 siswa (35 %) dan yang dapat dan faham membaca ayat Al Qur’an 12 siswa (30 %). Untuk tindakan 2, yang tidak dapat membaca 22 siswa (55 %), yang dapat membaca 18 siswa (45 %), yang dapat/faham membaca ayat Al Qur’an ada 16 siswa (40 %). Tindakan 3, yang tidak dapat membaca 19 siswa (47,5 %), yang dapat membaca 21 siswa (52,5 %), yang dapat/faham membaca ayat Al Qur’an 18 siswa (45 %).
         Jadi pada siklus II ini yang tidak dapat membaca ayat Al Qur’an turun 17,5  % dan yang dapat membaca naik 17,5  %, serta yang dapat/faham naik 15 %. Pencapaian hasil penumbuhan ini berdasarkan refleksi guru selaku aktor utama dalam penelitian ini masih merasa belum menyiapkan permasalahan yang dihadapi siswa terutama dalam menyiapkan permasalahan yang dihadapi siswa terutama dalam melaksanakan tindakan penerapan metode membaca Al Qur’an. Sehingga masih terdapat siswa yang belum dapat membaca ayat Al Qur’an dengan baik dan benar. Oleh karena itu setelah diadakan diskusi dan refleksi, direncanakan dilaksanakan siklus III.
         Hasil dan analisis siklus III yaitu pada tindakan I, siswa yang tidak dapat membaca ayat Al Qur’an ada 15 siswa (37,5 %), yang dapat membaca 25 siswa (62,5 %), dan yang dapat/faham membaca ada 22 siswa ( 55 %). Pada tindakan 2, yang tidak dapat membaca ada 12 siswa (30 %), yang dapat membaca 28 siswa (70 %), yang dapat/faham dalam membaca ada 25 siswa (62,5 %). Pada tindakan 3, yang tidak dapat membaca ada 5 siswa (12,5 %), yang dapat membaca 35 siswa (87,5%), dan yang dapat/faham ada 33 siswa (82,5 %).
         Jadi pada siklus III ini yang tidak dapat membaca Al Qur’an turun 25 % dan yang dapat membaca Al Qur’an naik 25 %, serta yang dapat/faham dalam membaca Al Qur’an naik 27,5 %, yang disebabkan karena guru mengoptimal-kan metode dan pembimbingannya.
         Pada siklus IV diperoleh hasil yaitu tindakan I, jumlah siswa yang tidak dapat membaca Al Qur’an sebanyak 5 siswa (12,5 %), yang dapat membaca 35 siswa (87,5 %), dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 33 siswa (82,5%). Pada tindakan 2, siswa yang tidak dapat membaca Al Qur’an 3 siswa (7,5%), yang dapat membaca 37 siswa (92,5%), dan yang sudah dapat/ faham ada 36 siswa (90 %). Sedangkan pada tindakan 3, yang tidak dapat membaca Al Qur’an ada 1 siswa (2,5 %), yang dapat membaca 39 siswa (97,5 %), dan yang dapat/faham ada 39 siswa (97,5 %).
         Dengan demikian mulai dari siklus I tindakan 1 sampai dengan siklus IV tindakan 3 siswa yang tidak dapat membaca Al Qur’an 36 siswa menjadi 1 siswa, berarti mengalami penurunan 87,5 %, sedangkan siswa yang dapat membaca Al Qur’an dari 4 siswa menjadi 39 siswa, berarti mengalami peningkatan 87,5 %, sedangkan siswa yang dapat/faham membaca Al Qur’an dari 3 siswa menjadi 38 siswa, berarti juga mengalami peningkatan 87,5 %.
         Untuk mengetahui lebih jelas tentang peningkatan siswa dalam membaca Al Qur’an dapat dilihat dalam tabel berikut ini.
Tabel 3.  Prosentase Membaca Al Qur’an Siswa Kelas 7  SMP  Negeri 1 Ngemplak Kabupaten Boyolali
Siklus
Membaca
Tidak dapat
Dapat
Dapat/faham
I
II
III
IV
77,5
55
27,5
  7,5
20
42,5
70
92,5
  15
37,5
62,5
97,5



         Dari tabel tersebut di atas dapat digambarkan histogram sebagai berikut :
Siklus
Gambar 2. Histogram Persentase tidak dapat membaca.
Siklus
Gambar 3. Histogram Persentase dapat membaca.
Siklus
Gambar 4. Histogram Persentase dapat/faham membaca.
E.     Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan
         Dari hasil pengumpulan data yang kemudian dianalisis dengan diskripsi prosentase dan dirangkum dalam tabel dan digambarkan dalam histogram di atas, menunjukkan bahwa persentase siswa yang dapat membaca Al Qur’an mengalami peningkatan pada setiap siklus. Pada siklus I yang dapat membaca Al Qur’an 20 % dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 15 %. Siklus II yang dapat membaca Al Qur’an 42,5 % dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 37,5 %. Siklus III yang dapat membaca Al Qur’an 70 % dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 62,5 %. Siklus IV yang dapat membaca Al Qur’an 92,5% dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 97,5 %. Jadi secara keseluruhan siswa yang dapat membaca Al Qur’an mengalami peningkatan 87,5 %.
         Dari keseluruhan siklus yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa guru telah mampu mengupayakan siswa kelas VII D SMP Negeri 1 Ngemplak kabupaten Boyolali dalam membaca Al Qur’an lewat tambahan pelajaran Al Qur’an. Hal ini nampak jelas dalam tabel 3. Setiap siklus membawa dampak positif ke arah pertumbuhan/peningkatan.
           















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
         Dari hasil penelitian ini dapatlah penulis menarik kesimpulan dari hasil analisa diskripsi prosentase menunjukkan bahwa persentase siswa yang dapat membaca Al Qur’an mengalami peningkatan pada setiap siklus. Pada siklus I yang dapat membaca Al Qur’an 20 % dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 15 %. Siklus II yang dapat membaca Al Qur’an 42,5 % dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 37,5 %. Siklus III yang dapat membaca Al Qur’an 70 % dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 62,5 %. Siklus IV yang dapat membaca Al Qur’an 92,5% dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 97,5 %. Jadi secara keseluruhan siswa yang dapat membaca Al Qur’an mengalami peningkatan 87,5 %.
         Dengan demikian jika guru melakukan upaya-upaya (menanamkan pentingnya membaca Al Qur’an, pengembangan belajar kreatif dengan pengoptimalan metode KARIMAH, drill dan demonstrasi serta pemberian motivasi) untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca membaca Al Qur’an maka siswa akan dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan benar.
         Model peningkatan kemampuan siswa dalam membaca Al Qur’an telah terbukti dapat meningkatkan persentase dan kualitas membaca Al Qur’an. Dengan demikian model ini dapat digunakan dan dikembangkan untuk membantu guru dalam memecahkan persoalan yang sejenis untuk kelas yang berbeda dengan latar belakang yang hampir sama. Perlu diadakan penelitian lanjutan tentang usaha guru dalam menjaga dan meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca Al Qur’an.

B.     Saran untuk Tindakan Lebih Lanjut
         Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian ini diberikan saran-saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi para pelaksana pendidikan khususnya guru Pendidikan Agama Islam, yaitu :
1.      Guru-guru dalam menyampaikan materi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam hendaknya mempersiapkan materi yang akan disajikan secara matang serta dapat memanfaatkan metode pengajaran yang tepat.
2.      Melalui tambahan pelajaran Al Qur’an kepada Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Ngemplak diharapkan mampu menerapkan metode Karimah, drill dan demonstrasi dalam proses pembelajaran membaca Al Qur’an, mengingat bahwa dengan menggunakan metode tersebut dapat meningkatkan kemampuan membaca Al Qur’an dengan baik dan benar.
3.      Kepada peneliti lain diharapkan dapat mengkaji secara lebih dalam dan luas melalui kegiatan penelitian yang terkait dengan masalah tersebut, sehingga hasilnya dapat dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini.
        Demikianlah semoga Karya Tulis Ilmiah yang sederhana ini dapat ber-manfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya.













DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi, 1976. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, Semarang: Toha Putra.
As’ad Humam, 1994. Buku Iqro’ Cara Cepat Membaca Al Qur’an, edisi revisi, Yogyakarta: AMM (Angkatan Muda Masjid-Mushola).
Bimo Walgito, 1985. Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta: Yasbit.  Fak. Psikologi UGM.
Budiyono, 1995. Beban Tugas Guru dan Kualitas Proses Belajar Mengajar, Laporan Penelitian.
Departemen Agama RI. 1989. Al Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Yayasan Penyelenggaraan Penterjemahan Al Qur’an.
Depdikbud RI, 1993. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke 2, Jakarta: Balai Pustaka. 
Depag RI. 1993. Bimbingan Membaca Al Qur’an. Jakarta: Dirjend. Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.
Depag RI. 1993/1994. Petunjuk Pelaksanaan Kurikulum/GBPP Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Tahun 1994. Jakarta: Dirjend Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.
Fahd Bin Abdurrahman Ar Rumi, Terjemahan Amirul Hasan dan Muhammad Halagi, 1996. Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Titian Ilahi.
Hadari Nawawi, 1987. Metode Penelitian Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University.
Mahmud Yunus, 1981. Metodik Khusus Bahasa Arab. Jakarta: PT. Hilda Karya.
Piet A. Sehertian, 1994. Profil Pendidikan Profesional, Yogyakarta: Andi Ofset.
Raka Joni T. 1980, Pengembangan Kurikulum IKIP/FIP/FKG Suatu Kasus Pen-didikan Berdasar Kompetensi. Jakarta, Depdikbud, P3G.
Salim Bahreusyi. 1986. Terjemahan Riadus Sholihin II. Bandung: Al Ma’arif.
Soedijarto, 1993. Memantapkan Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Gramedia, Widiasarana Indonesia.
Suharsimi Arikunto, 1993. Prosedur Penelitian. Jakarta: Bina Aksara.
Sutrisno Hadi, 1983. Metodologi Research II. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fak. Psikologi UGM.
Syekh Ahmad Al Basyuni, 1994. Syarah Hadits. Bandung: Trigenda Karya.
Winarno Surahmad, 1989. Pengantar Penelitian Ilmiah Metode Teknik. Bandung: Tarsito.





















LAMPIRAN
INSTRUMEN PENELITIAN

 PENINGKATAN KEMAMPUAN BACA TULIS AL QUR’AN
DENGAN METODE KARIMAH

Hari dan tanggal    :                                                   Kelas               :
Mata Pelajaran       :                                                   Jumlah siswa   :
Waktu/Jam             :                                                   Laki-laki         :
Guru                       :                                                   Perempuan      :
Pengamat/Peneliti  :
 


PETUNJUK :
          Lingkarilah bilangan yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya pada pertanyaan-pertanyaan di bawah ini !
1.      Berapa kali guru memberi kesempatan pada murid untuk membaca ayat Al Qur’an ?
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
2.      Berapa siswa yang berani membaca ayat Al Qur’an di papan tulis ?
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
3.      Berapa siswa yang sering membaca ayat Al Qur’an ?
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
4.      Berapa siswa yang belum dapat membaca ayat Al Qur’an ?
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
5.      Berapa siswa yang dapat membaca ayat Al Qur’an ?
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
6.      Berapa siswa yang sudah mahir membaca Al Qur’an ?
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
7.      Berapa siswa yang merasa sulit membaca ayat Al Qur’an ?
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
8.      Berapa jam waktu yang digunakan menambah pelajaran Al Qur’an?
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
PETUNJUK
Jawablah pertanyaan di bawah ini sesuai dengan keadaan yang sebenarnya terjadi !
9.      Metode apakah yang dipakai guru dalam mengajar Al Qur’an ?
Jawab : ......
10.  Bagaimana gairah siswa dalam mempelajari Al Qur’an ?
Jawab : ......
11.  Bagaimana keadaan siswa apabila guru sedang melaksanakan tindakan ?
Jawab : ......
12.  Bagaimana situasi pada waktu proses belajar mengajar berlangsung ?
Jawab : ......
13.  Apakah ada peningkatan kemampuan siswa dalam mempelajari/membaca Al Qur’an ?
Jawab : ......
14.  Untuk membantu dalam observasi kegiatan siswa dalam membaca Al Qur’an berilah tanda Ö pada kolom yang telah disediakan sesuai dengan keadaan siswa!
Nama Siswa
Tindakan
Membaca
Tidak dapat
Dapat
Dapat/faham
A
1
2
3



B
1
2
3



C
1
2
3



Jumlah









PROGRAM SATUAN PELAJARAN


Mata Pelajaran         :  Pendidikan Agama Islam
Pokok Bahasan        :  Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11, Surat At Tiin ayat 1 s.d 8 dan Surat Ash-Shof ayat 1 s.d 10
Sub Pokok Bahasan :  3.1.1. Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11 tentang larangan menghina anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta dan perintah menyebut-nyebut nikmat yang diberikan Allah sebagai tanda bersyukur.
                                    3.1.2.  Al Qur’an At Tiin ayat 1 s.d .8 tentang perintah larangan menghina anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta dan perintah menyebut-nyebut nikmat yang diberikan Allah sebagai tanda bersyukur.
                                    3.1.3.   Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 1 s.d 10 tentang larangan menghina anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta dan perintah menyebut-nyebut nikmat yang diberikan Allah sebagai tanda bersyukur.
Kelas/Semester         :  VII/1
Waktu                      :  4 jam pelajaran (2x pertemuan).

I.       Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Siswa mampu membaca, menyalin, mengartikan dan menyimpulkan kandungan Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11 tentang larangan menghina anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta dan perintah menyebut-nyebut nikmat yang diberikan Allah sebagai tanda bersyukur, Al Qur’an At Tiin ayat 1 s.d .8 tentang perintah larangan menghina anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta dan perintah menyebut-nyebut nikmat yang diberikan Allah sebagai tanda bersyukur, Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 1 s.d 10 tentang larangan menghina anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta dan perintah menyebut-nyebut nikmat yang diberikan Allah sebagai tanda bersyukur.
 Tujuan Instruksional Khusus (TPK)
Setelah proses belajar mengajar siswa diharapkan dapat :
Pertemuan I
1.      Membaca dengan fasih . Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11
2.      Menyalin dengan baik dan benar Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11.
3.      Mengartikan dengan benar Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11
4.      Menyimpulkan Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11
Pertemuan II
1.      Membaca dengan fasih Al Qur’an At Tiin ayat 1 s.d .8
2.      Menyalin dengan baik dan benar Al Qur’an At Tiin ayat 1 s.d .8
3.      Mengartikan dengan benar Al Qur’an At Tiin ayat 1 s.d .8
4.      Menyimpulkan Al Qur’an At Tiin ayat 1 s.d .8
Pertemuan III
1.      Membaca dengan fasih Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 1 s.d .5
2.      Menyalin dengan baik dan benar Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 1 s.d  5.
3.      Mengartikan dengan benar Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 1 s.d  5.
4.      Menyimpulkan Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 1 s.d 5.
Pertemuan IV
1.      Membaca dengan fasih Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 6 s.d 10.
2.      Menyalin dengan baik dan benar Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 6 s.d 10.
3.      Mengartikan dengan benar Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 6 s.d 10.
4.      Menyimpulkan Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 6 s.d 10.
II.    Materi Pelajaran
Pertemuan I
1.      Bacaan dan salinan Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11
2.      Arti dan kesimpulan Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11.
Pertemuan II
1.      Bacaan dan salinan Al Qur’an At Tiin ayat 1 s.d .8
2.      Arti dan kesimpulan Al Qur’an At Tiin ayat 1 s.d .8
Pertemuan III
1.      Bacaan dan salinan Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 1 s.d 5
2.      Arti dan kesimpulan Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 1 s.d 5.
Pertemuan IV
1.      Bacaan dan salinan Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 6 s.d 10
2.      Arti dan kesimpulan Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 6 s.d 10.
III. Kegiatan Belajar Mengajar
1.      Pendekatan : Pembiasaan, Pengalaman, Fungsional, Rasional.
2.      Metode : Ceramah, resitasi, latihan dan demonstrasi.
Langkah-langkah :
Pertemuan I
1.      Guru menulis  di papan tulis, siswa menyalin dalam buku tulis masing-masing.
2.      Guru membacakan, siswa menirukan berulang-ulang.
3.      Mengartikan Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11
4.      Menyimpulkan Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11.
Pertemuan II
1.      Guru membacakan  yang telah ditulis di papan tulis, siswa menulis dan menirukan bacaan yang telah disampaikan secara berulang-ulang.
2.      Guru mengartikan dan menyimpulkan Al Qur’an At Tiin ayat 1 s.d .8
3.       Siswa menulis-kan dalam buku tulisnya masing-masing.
Pertemuan III
1.      Guru menuliskan kemudian membacakan , siswa menyalin kemudian menirukan secara berulang-ulang.
2.      Guru mengartikan kemudian menyimpulkan Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 1 s.d 5
3.      Siswa menuliskan dalam buku tulisnya masing-masing.
Pertemuan IV
1.      Guru menuliskan di papan tulis dan membacakan Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 6 s.d 10
2.       Siswa menyalin dan menirukan secara berulang-ulang.
3.      Guru mengartikan dan menyimpulkan Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 6 s.d 10
4.      , Siswa menuliskan dalam buku masing-masing.
IV. Sumber
1.      Al Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI.
2.      Buku Paket PAI Jilid I, Depag RI.
3.      Buku Materi Pendidikan Agama Islam SMP Negeri l Ngemplak
V.    Evaluasi
1.      Prosedur : Pos Tes.
2.      Alat Evaluasi : Tes lesan dan tertulis.

               Mengetahui
            Kepala Sekolah                                                         Guru Mata Pelajaran


      ___________________                                              ___________________
      NIP.                                                                            NIP.

















 
 PENINGKATAN KEMAMPUAN BACA TULIS AL QUR’AN
DENGAN METODE KARIMAH SISWA
KELAS VII D SMPN I NGEMPLAK BOYOLALI
TAHUN PELAJARAN 2008/2009





Oleh :
Drs. FATHUR ROCHIM,SPDI,MSI
NIP.131832846


PANGKAT/GOL.RUANG       : PEMBINA IV/a
UNIT KERJA                            : SMP NEGERI 1 NGEMPLAK
KABUPATEN                            : BOYOLALI










Judul Karya Tulis     :         PENINGKATAN KEMAMPUAN BACA TULIS AL   QUR’AN DENGAN METODE KARIMAH SISWA KELAS VII D SMP NEGERI I  NGEMPLAK KABUPATEN BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2008/2009

Nama Penulis           :        Drs. FATHUR ROCHIM,SPDI,MSI
NIP                          :        131832846
Tugas Pokok            :        Guru Mapel Pendidikan Agam Islam
Unit kerja                 :        SMP NEGERI I  NGEMPLAK
Alamat                     :        Ngeserep, Ngemplak, Boyolali
                                          Telp.(0271)780420






                                                                    Ngemplak, 25 September  2008
                                                                                 Kepala Sekolah
                                                                         SMP Negeri I Ngemplak




                                                                          Drs. HARTOKO,MM.
                                                                                NIP.131768561



ii
 
 

ABSTRAK

Fathur Rochim :  PENINGKATAN KEMAMPUAN BACA TULIS AL-QUR'AN DENGAN METODE KARIMAH SISWA KELAS 7 D SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1 NGEMPLAK TAHUN 2008/2009.

Permasalahan pokok yang akan dipecahkan lewat penelitian tindakan kelas ini adalah : Usaha guru dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur'an. Tujuannya supaya siswa dapat membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar. Hipotesis tindakannya adalah : jika guru melaksanakan tambahan pelajaran membaca Al-Qur'an maka siswa dapat membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar.
Penelitian ini merupakan tindakan guru untuk memperbaiki proses pengajaran pendidikan agama Islam terutama dalam membaca ayat Al-Qur'an di kelas 3 SMP Negeri 1 Ngemplak kabupaten Boyolali dan aktor utamanya adalah guru pendidikan agama Islam kelas 3. penelitian dilakukan dalam 4 siklus dan meliputi 4 tahapan yaitu : observasi, perencanaan untuk siklus berikutnya.
Setiap siklus terdiri dari 3 tindakan yaitu : penanaman pentingnya membaca Al-Qur'an, pengembangan belajar kreatif dengan mengoptimalkan penggunaan metode iqro', drill, dan demontrasi, dan pemberian motivasi (pujian). Untuk memantau status kemajuan siswa dalam membaca Al-Qur'an serta merekam tindakan guru dan reaksi siswa menggunakan alat bantu lembar pengamatan dan catatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase siswa yang dapat membaca Al-Qur'an mengalami peningkatan pada setiap siklus. Pada siklus I yang dapat membaca Al Qur’an 20 % dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 15 %. Siklus II yang dapat membaca Al Qur’an 42,5 % dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 37,5 %. Siklus III yang dapat membaca Al Qur’an 70 % dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 62,5 %. Siklus IV yang dapat membaca Al Qur’an 92,5% dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 97,5 %. Jadi secara keseluruhan siswa yang dapat membaca Al Qur’an mengalami peningkatan 87,5 %.
iii
 
Dengan demikian jika guru melakukan upaya-upaya (menanamkan pentingnya membaca Al-Qur'an, pengembangan belajar kreatif dengan pengoptimalan metode Karimah, drill dan demonstrasi serta pemberian motivasi) untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur'an maka siswa akan dapat membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar.
Model peningkatan kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur'an telah terbukti dapat meningkatkan persentase dan kualitas membaca Al-Qur'an. Dengan demikian model ini dapat digunakan dan dikembangkan untuk membantu guru dalam memecahkan persoalan yang sejenis untuk kelas yang berbeda dengan latar belakang yang hampir sama. Perlu diadakan penelitian lanjutan tentang usaha guru dalam menjaga dan meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur'an.
iv
 


 
KATA PENGANTAR



            Dengan mengucapkan syukur kepada Alloh SWT. Penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah dengan selamat. Karya tulis ini dibuat/disusun untuk melengkapi  persyaratan sebagai peserta Lomba Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Departemen Pendidikan Nasional
            Penulis menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ilmiah ini banyak pihak yang membantu dan memberikan sumbangan pemikiran, petunjuk, saran yang berguna. Untuk itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :
1.      Kepada SMP N I Ngemplak yang telah memberi izin dan dorongan untuk                  mengadakan penelitian
2.      Rekan – rekan sejawat yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dan memberikan dorongan dalam penelitian sehingga dapat berhasil dengan baik dan lancar.

Sumbangan saran yang bersifat memperbaiki, demi sempurnanya karya tulis ilmiah ini sangat diharapkan. Semoga karya tulis ini dapat berguna khususnya penulis, dan pembaca pada umumnya.

Ngemplak,   September  2008
Penulis


 
           

Drs. Fathur Rochim,SPDI,MSI   
   NIP.131832846



v
 
 

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ....................................................................................              i
LEMBAR PENGESAHAN..........................................................................             ii
ABSTRAK ....................................................................................................            iii
KATA PENGANTAR ..................................................................................             v
DAFTAR ISI.................................................................................................            vi
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................          vii
BAB     I. PENDAHULUAN.......................................................................             1
A. Latar Belakang Masalah  .........................................................             1
B. Identifikasi Masalah  ................................................................             3
C. Pembatasan dan Rumusan Masalah .........................................             3
D. Tujuan Penelitian......................................................................             4
E. Manfaat Hasil Penelitian ..........................................................             4
BAB    II. KAJIAN PUSTAKA ..................................................................             5
A. Kajian Teori  ............................................................................             5
B. Kajian Hasil Penelitian .............................................................           11
BAB   III. METODOLOGI PENELITIAN ................................................           15
A. Objek Tindakan .......................................................................           15
B. Subjek Penelitian ......................................................................           15
C. Metode Pengumpulan Data .....................................................           15
D. Metode Analisis Data...............................................................           18
E. Cara Pengambilan Kesimpulan .................................................           18
BAB  IV. HASIL PENELITIAN  ...............................................................           19
A. Gambaran Selintas Tentang Setting .........................................           19
B. Uraian Penelitian Secara Umum ..............................................           19
C. Penjelasan Per Siklus ................................................................           24
D. Proses Menganalisis Data ........................................................           26
E. Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan .............................           31
BAB   V. KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................           32
A. Kesimpulan ..............................................................................           32
B. Saran untuk Tindakan Lebih Lanjut ........................................           32
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................           34
vi
 
LAMPIRAN-LAMPIRAN ..........................................................................           36

 
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1.  Instrumen Penelitian ................................................................           36
Lampiran 2.  Program Satuan Pelajaran ........................................................           38

vii
 
 
 BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

         Guru adalah motor utama yang mendapat tanggung jawab langsung untuk menterjemahkan kurikulum ke dalam aktifitas belajar mengajar (Soedijarto, 1993:58). Untuk itu guru perlu memiliki kemampuan personal, profesioinal dan kemampuan sosial untuk menunjang tugasnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemampuan tersebut diupayakan untuk dikembangkan dan ditingkat-kan agar mencapai tingkat profesi yang optimal. Proses pertumbuhan profesi dimulai sejak guru mulai mengajar dan berlangsung sepanjang hidup dan karier hidup (Piet A. Sehertian, 1994:7). Kesadaran guru untuk itu ternyata belum begitu nampak. Penelitian Budiyono terhadap 36 guru di Semarang menemu-kan bahwa belum semua guru menghabiskan waktu yang ada untuk keperluan profesionalnya, hanya 38,9% dari sebagian waktu yang ada (Budiyono, 1995:17).
         Tenaga yang profesional lebih mengutmaakan kemampuan merencanakan dan mengelola proses belajar mengajar yang kondusif bagi perkembangan peserta didik yang mengadakan perbaikan secara berkesinambungan dengan merefleksi diri terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Sebagai orang yang beriman kepada Allah SWT. dan memeluk Agama Islam seharusnyalah dapat mengetahui isi Kitab Al Qur’an dengan cara mempelajari/membaca kitab tersebut, karena membaca Al Qur’an merupakan perintah Allah SWT. sebagaimana tersurat dalam firman Allah Surat Al ’Alaq ayat 1 s/d 5 :
 







Artinya : Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhanmu yang paling pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Al Qur’an dan Terjemahan, 1984:1077).

         Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda :
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ (رواه لبخارى)
Artinya :  Sebaik-baik kamu adalah yang mau belajar membaca Al Qur’an dan mengajarkannya (HR. Bukhori), (Salim Bahreisy, 1986:123).
         Membaca Al Qur’an bagi umat Islam merupakan ibadah kepada Allah SWT. Oleh karena itu keterampilan membaca Al Qur’an perlu diberikan kepada anak sejak dini mungkin, sehingga nantinya diharapkan setelah dewasa dapat membaca, memahami dan mengamalkan Al Qur’an dengan baik dan benar.
         Pemberian pelajaran Al Qur’an sebaiknya melalui tri pusat pendidikan yaitu : keluarga, sekolah dan masyarakat, dimana yang paling dominan dan waktunya banyak adalah di dalam keluarga. Oleh karena itu yang paling menentukan berhasil/tidaknya anak dapat membaca Al Qur’an adalah pendidikan informal di tengah keluarga.
         Di sekolah perlu adanya pelajaran Al Qur’an, hanya saja waktu dan sarananya terbatasi, materi yang diberikan kepada siswa terbatas, jam pelajaran yang terbatas dalam kurikulum juga terbatas (hanya 2 jam pelajaran per minggu), disamping itu PAI tidak termasuk pelajaran yang di-EBTANAS-kan, sehingga siswa kurang mendapat pelajaran dengan maksimal serta kurang perhatiannya. Supaya siswa dapat membaca, memahami Al Qur’an dengan baik dan benar maka diadakan tambahan pelajaran Al Qur’an dengan metode KARIMAH. Pendidikan dalam masyarakat juga penting, karena anak lebih banyak bergaul dengan masyarakat yang dapat mempengaruhi sifat, watak dan perilakunya sehari-hari. Karena pentingnya pengetahuan tentang Al Qur’an, maka penulis berusaha mengangkat masalah ini menjadi obyek pembahasan penelitian dengan usaha penambahan pelajaran Al Qur’an di sekolah.
         Mengacu pada pemikiran dan realita yang ada, peneliti tertarik untuk memberikan tindakan yang membuat siswa dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan benar. Dorongan untuk membantu memecahkan masalah ini timbul karena melihat sendiri keadaan siswa kelas 7 D SMP Negeri I Ngemplak Boyolali. Harapannya selesai penelitian ini siswa dapat membaca ayat Al Qur’an dengan baik dan benar.

B.     Identifikasi Masalah

         Dari latar belakang masalah di atas permasalahan yang ada dapat di-identifikasikan sebagai berikut:
1.      Masih banyak siswa yang belum dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan benar.
2.      Ketidakmampuan membaca Al Qur’an dengan baik dan benar disebabkan karena kurang banyak latihan.
3.      Melalui metode karimah dapat meningkatkan kemampuan membaca Al Qur’an dengan baik dan benar.

C.    Pembatasan dan Rumusan Masalah

         Berdasarkan berbagai permasalahan tersebut di atas, perlu adanya pembatasan masalah sebagai berikut :
1.      Untuk meningkatkan kemampuan membaca Al Qur’an dengan baik dan benar diperlukan metode karimah
2.      Metode pengajaran yang dipilih untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca Al Qur’an dengan baik dan benar yaitu dengan metode Karimah, drill dan demonstrasi.
         Berdasarkan pembatasan masalah tersebut, dapat dirumuskan sebagai berikut :
“ Apakah dengan menggunakan metode karimah dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca Al Qur’an dengan baik dan benar?”

D.    Tujuan Penelitian

         Bertolak dari rumusan masalah di atas maka penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca Al Qur’an dengan baik dan benar melalui tambahan pelajaran Al Qur’an.

E.     Manfaat Hasil Penelitian

         Secara praktis penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan proses belajar mengajarnya terutama dalam meningkatkan kemampuan siswa membaca dan memahami Al Qur’an, di samping itu juga bermanfaat bagi siswa itu sendiri sehingga dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan benar serta dapat meningkatkan amal ibadah kepada Allah SWT, hasil penelitian ini juga bermanfaat bagi sekolah yang mengalami permasalahan yang hampir sama dan sejenis, sebagai batu pijakan dan per-bandingan untuk perbaikan proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Kajian Teori

1.      Pengertian Al Qur’an
         Al Qur’an adalah dasar dan pedoman hidup bagi umat Islam yang perlu dipelajari dan dimengerti serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, karena di dalamnya memuat berbagai aturan dan tatanan hidup manusia di dunia sampai di akherat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang berisi firman-firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantaraan malaikat Jibril untuk dibaca, difahami dan diamalkan sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi umat manusia (Depdikbud, 1993:28).
         Dalam mengartikan kata Al Qur’an sedikitnya ada dua golongan yang berbeda pendapat yaitu :
a.       Golongan pertama yang diwakili antara lain oleh Al Lihyani ber-pendapat bahwa Al Qur’an adalah bentuk masdar mahfudz mengikuti wazan Al Ghufran dan ia merupakan mustaq dari kata Qaraa yang mempunyai arti sama dengan tala. Al Qur’an bisa juga disebut Al Muq’ru yang merupakan sebutan bagi obyek dalam bentuk masdarnya.
b.      Golongan kedua yang diwakili antara lain oleh Az Zujaj berpendapat bahwa Al Qur’an diidentikkan dengan wazan Fu’lan yang merupakan musytaq dari lafal Al Qar’u yang mempunyai arti al jam’u. Ibnu Atsir juga berpendapat bahwa disebut Al Qur’an karena di dalamnya memuat kumpulan kisah-kisah. Amar ma’ruf nahi munkar, perjanjian, ancaman, ayat-ayat dan surat-surat lafal Al Qur’an adalah bentuk masdar seperti kata Ghufran dan Khufran (Atsir, IV, tt : 30). Dari beberapa pendapat tersebut mereka sepakat bahwa Al Qur’an adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, bagi yang membaca-nya merupakan ibadah dan mendapat pahala (Fahd Bin Abdurrahman Ar Rumi, terjemahan 1996:41).

2.      Nama-nama Al Qur’an
         Al Qur’an mempunyai banyak nama antara lain :
a.       Al Furqan artinya pembeda. Maksudnya bahwa Al Qur’an itu dapat membedakan antara yang hak dan yang batil seperti firman Allah dalam surat Al Furqan ayat 1 (satu) yang artinya : “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqan (Al Qur’an kepada hambanya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam” (QS. Al Furqan : 1).
b.      Al Kitab artinya kitab Allah. Maksudnya wahyu dari Allah sebagaimana Firman Allah yang artinya : “Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya, menjadi petunjuk bagi orang yang bertaqwa” (QS. Al Baqoroh : 2).
c.       Ad Dzikru artinya peringatan. Maksudnya bahwa Al Qur’an menjadi peringatan bagi semua manusia atas segala tindakannya yang tidak benar. Sebagaimana firman Allah yang artinya “Dan Aku (Allah) telah menurunkan Adz Dzikir (Al Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan kepada manusia apa-apa yang telah Aku turunkan kepada mereka” (QS. An Nahl : 44).

3.      Al Qur’an Sebagai Pedoman Hidup
         Al Qur’an disamping sebagai Ilmu dan Mu’jizat terbesar Nabi Muhammad SAW juga sebagai pedoman hidup manusia sepanjang masa, di dunia sampai di akherat. Ajaran Al Qur’an selalu sesuai dengan kepen-tingan dan kebutuhan hidup dan kehidupan manusia, oleh karena itu manusia disuruh mengikuti Al Qur’an. Sebagaimana dalam firmanNya dalam surat Al An’am : 155, yang artinya : “Dan inilah sebuah kitab yang Kami (Allah) turunkan yang diberkati, maka dari itu ikutilah dan bertaqwa-lah kamu (kepada Allah) supaya kamu diberi rahmat (QS. Al An’am : 155).
         Dalam surat lain Allah juga berfirman yang artinya : “Tidaklah cukup bagi mereka, sesungguhnya yang demikian itu menjadi rahmat dan peringatan bagi orang-orang yang beriman (QS. Al An Kabut : 51). Dari ayat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa barang siapa mengikuti Al Qur’an maka mereka akan diberi rahmat dan peringatan dari Allah SWT. Mengikuti Al Qur’an berarti menjadikan Al Qur’an sebagai pegangan dan pedoman hidup, karena memang di dalam Al Qur’an memuat berbagai aturan tentang kehidupan manusia di dunia hingga akherat. Barang siapa mengikuti Al Qur’an maka hidupnya akan selamat dan sejahtera di dunia dan akherat kelak. Bahkan istri Rasulullah WAW, Siti Aisyah ketika ditanya sahabatnya tentang akhlak Rasulullah, beliau menjawab bahwa akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an.
         Rasulullan sendiri pernah bersabda yang artinya : “Telah kutinggalkan bagimu dua perkara yang tak akan tersesat jika kamu berpegang pada keduanya yaitu Kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnah RasulNya (HR. Ibn. Abdul Barri). (Moh. Rifa’i, 1980 : 183).

4.      Keutamaan Membaca Al Qur’an dan Cara Membacanya
         Tentang keutamaan dan kelebihan membaca Al Qur’an, Rasulullah telah menyatakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang maksudnya demikian : “Perumpamaan orang mu’min yang membaca Al Qur’an, adalah seperti bunga utrujjah, baunya harum dan rasanya lezat; orang mu’min yang tak suka membaca Al Qur’an, adalah seperti buah korma, baunya tidak begitu harum, tapi manis rasanya; orang munafiq yang membaca Al Qur’an ibarat sekuntum bunga, berbau harum, tetapi pahit rasanya; dan orang munafiq yang tidak membaca Al Qur’an, tak ubahnya seperti buah hanzalah, tidak berbau dan rasanya pahit sekali.”
         Dalam sebuah hadits, Rasulullah juga menerangkan bagaimana besar-nya rahmat Allah terhadap orang-orang yang membaca Al Qur’an di rumah-rumah peribadatan (masjid, surau, mushalla dan lain-lain). Hal ini dikuat-kan oleh sebuah hadits yang masyhur lagi shahih yang berbunyi sebagai berikut : “Kepada kaum yang suka berjemaah di rumah-rumah peribadatan, membaca Al Qur’an secara bergiliran dan ajar-mengajarkannya terhadap sesamanya, akan turunlah kepadanya ketenangan dan ketenteraman, akan terlimpah kepadanya rahmat dan mereka akan dijaga oleh malaikat, juga Allah akan selalu mengingat mereka” diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah). (Depag RI, 1984:122).
         Dengan hadits di atas nyatalah, bahwa membaca Al Qur’an, baik mengetahui artinya ataupun tdiak, adalah termasuk ibadah, amal shaleh dan memberi rahmat serta manfaat bagi yang melakukannya; memberi cahaya ke dalam hati yang membacanya sehingga terang benderang, juga memberi cahaya kepada keluarga rumah tangga tempat Al Qur’an itu dibaca. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Anas r.a., Rasullullah bersabda: “Hendaklah kamu beri nur (cahaya) rumah tanggamu dengan sembahyang dan dengan membaca Al Qur’an” (Depag RI, 1984: 122).
         Al Qur’an sebagai Kitab Suci, wahyu Ilahi, mempunyai adab-adab tersendiri bagi orang-orang yang membacanya. Adab-adab itu sudah diatur dengan sangat baik, untuk penghormatan dan keagungan Al Qur’an, tiap-tiap orang harus berpedoman kepadanya dalam mengerjakannya.
         Di antara adab-adab membaca Al Qur’an, yang terpenting ialah :
1.   Disunatkan membaca Al Qur’an sesudah berwudhu, dalam keadaan bersih, sebab yang dibaca adalah wahyu Allah. Kemudian mengambil Al Qur’an hendaknya dengant angan kanan; sebaiknya memegangnya dengan kedua belah tangan.
2.   Disunatkah membaca Al Qur’an di tempat yang bersih, seperti : di rumah, di surau, di mushalla dan di tempat-tempat lain yang dianggap bersih. Tapi yang paling utama ialah di masjid.
3.   Disunatkan membaca Al Qur’an menghadap ke qiblat, membacanya dengan khusyu’ dan tenang; sebaiknya dengan berpakaian yang pantas.
4.   Ketika membaca Al Qur’an, mulut hendaknya bersih, tidak berisi makanan, sebaiknya sebelum membaca Al Qur’an mulut dan gigi dibersihkan lebih dahulu.
5.   Sebelum membaca Al Qur’an, disunatkan membaca ta’awwudz, yang berbunyi : a’udzubillahi minasy syaithanirrajim. Sesudah itu barulah dibaca Bismillahirrahmanir rahim. Maksudnya, diminta lebih dahulu perlindungan Allah, supaya terjauh dari pengaruh tipu-daya syaitan, sehingga hati dan fikiran tetap tenang di waktu membaca Al Qur’an, terjauh dari gangguan-gangguan.
6.   Disunatkan membaca Al Qur’an dengan tartil, yaitu dengan bacaan yang pelan-pelan dan tenang.
7.   Bagi orang yang sudah mengerti arti dan maksud ayat-ayat Al Qur’an, disunatkan membacanya dengan penuh perhatian dan pemikiran tentang ayat-ayat yang dibacanya itu dan maksudnya.
8.   Dalam membaca Al Qur’an itu, hendaklah benar-benar diresapkan arti dan maksudnya.
9.   disunatkan membaca Al Qur’an dengan suara yang bagus lagi merdu, sebab suara yang bagus dan merdu itu menambah keindahan uslubnya Al Qur’an.
10.  Sedapat-dapatnya membaca Al Qur’an janganlah diputuskan hanya karena hendak berbicara dengan orang lain. Hendaknya pembacaan diteruskan sampai ke batas yang telah ditentukan, barulah disudahi. Juga dilarang tertawa-tawa, bermain-main dan lain-lain yang semacam itu, ketika sedang membaca Al Qur’an. Sebab pekerjaan yang seperti itu tidak layak dilakukan sewaktu membaca Kitab Suci dan berarti tidak menghormati kesuciannya. (Depag RI, 1984:125-128).

5.      Metode Membaca Al Qur’an 
a.    Macam-macam Metode Membaca Al Qur’an
Metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai. Kemampuan untuk memilih dan menetapkan suatu metode harus memiliki guru semenjak awal sehingga tidak salah dalam penggunaan metode tersebut. Pilihan suatu metode sangat bergantung pada :
1)      Tujuan yang ingin dicapai pada proses belajar mengajar.
2)      Siswa yang belajar, mengenai kemampuan dan latar belakangnya.
3)      Guru yang mengajar, mengenai kemampuan dan latar belakangnya.
4)      Keadaan proses belajar mengajar.
5)      Alat dan sarana yang tersedia. (Depag RI, 1994:85).

         Dalam penggunaan metode mengajar baca tulis Al Qur’an Mahmud Yunus mengemukakan 4 (empat) metode yaitu :
1)      Metode abjad yaitu mengajarkan huruf Al Qur’an dari nama-nama huruf, kata perkata kemudian kalimat.
2)      Metode suara yaitu ada kesamaan dengan metode abjad tetapi huruf diajarkan menurut bunyi.
3)      Metode kata-kata yaitu memperhatikan kata-kata yang dibacakan guru kemudian menirukannya.
4)      Metode kalimat yaitu dimulai dari kalimat, kemudian kata kemudian huruf. (Mahmud Yunus, 1981 : 6-20).
Sedangkan As’ad Humam berpendapat bahwa (1994:30) “Dengan metode iqro’ metode ini mengandung/mempunyai 10 (sepuluh) sifat yaitu : Bacaan langsung, CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), Privat/ Klasikal, Modul, Praktis, Asistensi, Sistematis, Variatif, Komunikatif, Fleksibel.”
b.   Tingkat-tingkat Membaca Al Qur’an
         Membaca Al Qur’an adalah kewajiban setiap umat Islam dan barang siapa yang membacanya merupakan amal ibadah yang akan mendapat pahala dari Allah SWT., maka belajar membaca Al Qur’an hendaklah dimulai dari semenjak kecil, sebaiknya dari semenjak usia 5 atau 6 tahun (Depag RI, 1984:128).
         Sedangkan Rasulullah SAW bersabda : Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang mau belajar Al Qur’an dan mengajarkannya (Salim Bahreusyi, 1986:123).
         Membaca huruf-huruf Al Qur’an berarti mengenal dan memahami serta melafalkan jumlah huruf-huruf dalam Al Qur’an sebanyak 29 buah (Muhammad Anwar, 1988:5).
         Adapun tingkat kemahiran membaca Al Qur’an secara sederhana dibagi menjadi beberapa tingkat yaitu :
1.      Tingkat dasar yaitu dapat membaca Al Qur’an secara sederhana (belum terikat oleh tajwid dan lagu).
2.      Tingkat menengah yaitu dapat membaca Al Qur’an dengan mengikuti tanda baca dan cara lain sesuai dengan tajwid.
3.      Tingkat maju yaitu dapat membaca Al Qur’an dengan bacaan dan lagu yang baik sesuai dengan bentuk-bentuk lagu.
4.      Tingkat mahir yaitu dapat membaca Al Qur’an dalam berbagai cara (qiraat) (Depag RI, 1993:1).

B.     Kajian Hasil Penelitian

           Kemampuan membaca Al Qur’an dapat meningkat apabila ada kemauan untuk belajar efektif dan kreatif disamping adanya guru yang mampu mem-bimbingnya. Supaya transformasi pengetahuan dapat sampai kepada pikiran siswa memerlukan dua hal penting yaitu : adanya kemampuan pengajar, adanya kesiapan siswa.
           Proses Belajar Mengajar (PMB) tidak akan berhasil apabila pengajar tidak mempunyai kemampuan mengungkapkannya dengan benar dan hati murid tidak siap menyambut dengan terbuka pintunya guna memasukkan materi ilmu tersebut, sedang terbukanya pikiran siswa adalah proses kerjasama antara guru dan murid (Fahd bin Abdurrahman ar Rumi, 1996:194).
           Kemampuan pengucapan Al Qur’an harus dimulai dari mengenal membaca,       memahami dan melafadzkan jumlah huruf dalam Al Qur’an (Muhammad Anwar, 1988:5). Untuk dapat memahami dan melafadzkan Al Qur’an dengan baik dan benar perlu proses pembelajaran yang efektif dan memerlukan kesadaran, praktek, pengalaman dan latihan bukan karena secara kebetulan (Nana Sudjana, 1990:5).
           Supaya siswa dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan benar harus dimulai semenjak kecil dengan mengenalkan dan melafadzkan huruf Al Qur’an secara rutin dan efektif. Sebab apabila tidak dimulai semenjak kecil dan sedini mungkin setelah besar akan sulit melafadzkan huruf Al Qur’an secara benar, karena pengucapan dan melafadzkan Al Qur’an. Reliata menunjukkan bahwa siswa kelas 7 D SMP Negeri 1 Ngemplak Boyolali masih banyak yang belum dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan benar, yang disebabkan kurangnya proses pembelajaran dan latihan pengucapan huruf Al Qur’an. Walaupun seusia mereka masih dapat dibimbing dan dilatih membaca Al Qur’an tetapi dengan syarat adanya kemauan belajar yang kuat dan latihan yang efektif.
           Al Qur’an diturunkan ke dunia ini memang harus dipahami sebagaimana perintah Allah SWT yang artinya : Sesungguhnya Kami menurunkan Al Qur’an dengan bahasa arab agar kamu memahaminya (QS. Yusuf : 20).
           Berdasarkan teori dan realita di atas maka dapatlah digambarkan kerangka berpikir sebagai berikut:
 











Gambar 1. Kerangka Berpikir
           Dalam hal ini guru perlu menyusun rancangan pengajaran yang dapat berbentuk SP (Satuan Pelajaran) atau semacamnya yang memungkinkan terciptanya interaksi belajar mengajar dan melatihkan anak untuk meningkatkan kemampuannya dalam mempelajari Al Qur’an.
           Di dalam Kurikulum PAI (Pendidikan Agama Islam) tahun 1994 disebutkan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam adalah : Meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan siswa tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Depag RI, 1993/1994:1).
           Untuk mencapai tujuan tersebut khususnya dalam membaca Al Qur’an disebutkan bahwa setelah siswa lulus SMP diharapkan mampu membaca Al Qur’an dan menulisnya dengan benar serta berusaha memahaminya (Depag RI, 1993/1994:4). Namun demikian 2 jam pelajaran yang disediakan dalam kurikulum untuk mata pelajaran PAI (Pelajaran Agama Islam) dirasa tidak cukup untuk mencapai tujuan tersebut, maka perlu diadakan tambahan jam pelajaran, supaya tujuan tersebut tercapai.
           Guna menjawab permasalahan di atas, maka profesionalitas guru dalam upaya peningkatan kemampuan siswa membaca Al Qur’an perlu ditingkatkan. Profesionalisme perlu dibahas karena berkaitan dengan upaya guru untuk memperbaiki metode pembelajarannya, sehingga mencapai hasil belajar yang optimal. Sedangkan usaha meningkatkan kemampuan siswa juga perlu dibahas, karena erat kaitannya dengan usaha guru untuk meningkatkan profesionalisme perbaikan pembelajaran, penyusunan perencanaan pengajaran dengan peng-optimalan penggunaan metode karimah serta pemberian motivasi.
           Guru adalah jabatan profesional, dimana menuntut penguasaan wawasan yang mendasari ketrampilannya yang menyangkut filosofis, pertimbangan rasional dan memiliki sikap positif dalam melaksanakan memperkembangkan mutu karyanya (T. Raka Joni, 1980:6). Disamping itu profesional memiliki makna adil (ekspert), tanggung jawab (responsibility) dan memiliki rasa kesejawatan (Piet A. Sahertian, 1994:30). Dengan demikian seorang guru haruslah ahli dalam bidang yang diajarkannya dan ahli dalam mendidik, memiliki rasa tanggung jawab terhadap dirinya, murid, orang tua, masyarakat, bangsa dan negara, sesama manusia dan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta memiliki rasa kesejawatan dengan menjunjung tinggi korps dan meningkatkan citra guru.
           Peningkatan profesionalisme guru adalah upaya atau kegiatan yang dilakukan guru untuk mencapai tingkat profesi yang optimal. Mereka yang sudah menjadi guru masih terus membutuhkan pembinaan dan pengembangan profesi. Pertumbuhan jabatan dikaitkan dengan peningkatan proses belajar mengajar. Dalam mengembangkan dan meningkatkan diri guru mengikuti penataran-penataran, pelatihan, lokakarya, mengikuti pendidikan lagi, membaca atau belajar sendiri. Peningkatan profesionalisme guru dapat tumbuh dari segi eksternal yaitu pimpinan mendorong guru untuk mengikuti penataran atau kegiatan akademik, dan dari segi internal, dimana guru belajar sendiri untuk bertumbuh dalam jabatannya (Haris dan Oliva, 1981:350). Jika guru tidak menambah pengetahuannya yang baru maka ibarat tanaman, guru itu menjadi gersang. Kepekaan guru terhadap masalah-masalah yang dihadapi di kelasnya dan cepat bertindak merupakan cerminan guru yang profesional.
           Perbaikan pembelajaran melalui refleksi diri terhadap pembelajaran yang telah dilakukan dan peningkatan kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah kelas merupakan peningkatan profesionalisme. Guru tidak hanya sekedar menyajikan bahan-bahan pelajaran untuk dihafal dan kemudian diukur tingkat penguasaannya, tetapi lebih dari itu, guru harus merencanakan, mengelola, memimpin dan menilai proses belajar dalam berbagai bidang pelajaran untuk tumbuhnya berbagai sikap, kemampuan dan keterampilan pada berbagai bidang kehidupan (Soedijarto, 1992:83).
















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 

A.    Objek Tindakan
           Yang menjadi objek tindakan dalam penelitian ini adalah usaha peningkatan kemampuan membaca Al Qur’an melalui tambahan pelajaran Al Qur’an. Adapun penelitian ini dilakukan melalui siklus yang berdaur ulang dan berkelanjutan, serta direncanakan dengan melaksanakan tiga siklus. Setiap siklus dengan tiga tindakan yaitu penanaman konsep membaca melalui huruf hijaiyah yang dirangkaikan dalam bentuk bunyi kalimat/kata dengan latihan bersuara/ pengucapan huruf-huruf tersebut, penciptaan kondisi dan pemberian kesempatan untuk membaca ayat Al Qur’an yang dilakukan dengan wujud pengembangan belajar kreatif dan pengoptimalan penggunaan metode iqro’, drill, dan demonstrasi. Setiap siklus meliputi tahapan observasi dan perencanaan tindakan, implementasi tindakan dan monitoring penelitian, refleksi hasil penelitian dan pengembangan.

B.     Subjek Penelitian
         Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di kelas VII D,  SMP Negeri 1 Ngemplak tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 40 siswa terdiri dari 20 siswa putri dan 20 siswa putra. Aktor utamanya adalah guru Pendidikan Agama Islam kelas VII D.

C.    Metode Pengumpulan Data
         Di dalam penelitian untuk mendapatkan data dalam suatu penelitian masalah yang ilmiah banyak cara yang ditempuh, dengan tujuan agar data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan. Adapun metode-metode dalam pe-nelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Metode Dokumentasi.
2.      Metode Angket.
3.      Metode Interview.
4.      Metode Observasi.
         Untuk lebih jelasnya maka di bawah ini akan penulis uraikan satu persatu sebagai berikut :
1.      Metode Dokumentasi.
“Dokumentasi dari asal kata dokumen yang artinya barang-barang tertulis” (Suharsimi Arikunto, 1993:89).
Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki terutama berupa arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku yang berkaitan dengan masalah penelitian ini. Adapun yang penulis maksud dalam dokumen ini adalah daftar siswa. 
2.      Metode Angket.
Yang dimaksud Angket adalah : “suatu daftar pertanyaan yang harus dijawab atau dikerjakan oleh orang yang menjadi sasaran angket” (Bimo Walgito, 1985:16).
Di dalam penulisan angket ini penulis pergunakan dengan angket tertutup dan diberikan tidak langsung pada subyek, akan tetapi melalui guru Pendidikan Agama Islam yang penulis selidiki.
          Di dalam penelitian ini dipakai metode angket sebagai metode utama dalam pengumpulan data, dimana data tersebut adalah mengenai usaha guru dalam meningkatkan kemampuan siswa membaca Al Qur’an melalui tambahan pelajaran Al Qur’an.
3.      Metode Interview.
“Metode interview adalah usaha mengumpulkan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan, untuk dijawab secara lisan pula” (Hadari Nawawi, 1987:27).
          Adapun jenis interview yang penulis pergunakan adalah “Interview bebas terpimpin.” Dalam hal ini penulis bukan saja sebagai pengumpul data melalui tanya jawab, tetapi metode ini hanya sebagai metode bantu dari pada metode angket yang penulis pergunakan sebagai metode pokok. Dari interview ini penulis dapat mengetahui lebih jelas tentang bagaimana usaha peningkatan kemampuan membaca Al Qur’an melalui tambahan pelajaran Al Qur’an.
4.      Metode Observasi.
          Metode observasi ini adalah “Suatu metode atau cara untuk me-ngumpulkan data yang diinginkan dengan pengamatan secara langsung” (Abu Ahmadi, 1976:91).
          Dengan metode ini dimaksudkan penulis dapat mengetahui secara jelas dari subyek penelitian, maka secara langsung peneliti (penulis) dapat mengamati hal yang ada hubungannya dengan masalah yang penulis jadikan alat bantu utama dalam kebenaran data.
Adapun jenis teknik observasi adalah sebagai berikut :
a.       Observasi patisipan – non partisipan.
b.      Observasi sistematis – non sistematis.
c.       Observasi eksperimental – non eksperimental.
ad.a.  Observasi partisipan – non partisipan
          Suatu observasi disebut partisipan jika orang yang mengadakan observasi turut ambil bagian dalam perikehidupan orang atau orang-orang yang diobservasi. Kata partisipan mempunyai arti yang penuh jika observer betul-betul turut berpartisipasi, bukan hanya pura-pura semata. Jika unsur partisipasi sama sekali tidak terdapat di dalamnya, observasi itu disebut non partisipan observation.
ad.b.  Observasi sistematis – non sistematis.
          Isi dan luas yang akan diobservasi dalam observasi sistematik umumnya lebih terbatas. Persoalan-persoalan sudah dirumuskan secara teliti pula.
Jenis-jenis gejala atau tingkah laku tertentu yang timbul dapat dihitung dan ditabulasikan.
ad.c.  Observasi eksperimental – non eksperimental.
          Dalam observasi eksperimental, bahwa observer dihadapkan pada situasi perangsang yang dibuat seseragam mungkin untuk semua observer. Oleh karena itu observasi eksperimental dipandang orang sebagai cara penyelidikan yang relatif murni untuk menyelidiki pengaruh kondisi-kondisi tertentu terhadap tingkah laku manusia.
           Adapun jenis observasi yang penulis pergunakan adalah “Teknik observasi sistematik karena dalam hal ini metode observasi penulis pergunakan sebagai metode bantu, yang sekaligus akan memberikan kemungkinan dalam penulis mencari data, sampai sejauh mana tentang usaha peningkatan kemampuan membaca Al Qur’an melalui tambahan pelajaran Al Qur’an.

D.    Metode Analisis Data
         Setelah penulis mendapatkan data-data selanjutnya dianalisa dengan analisa Diskriptif Prosentase dengan menggunakan rumus :
         Prosentasi = x 100%
Keterangan :
f    = Fekwensi/alternatif jawaban.
N   = Jumlah populasi.

E.     Cara Pengambilan Kesimpulan
         Pengambilan kesimpulan dilakukan dengan cara menggunakan analisis deskriptif prosentase yaitu dengan membandingkan siklus sebelumnya dengan siklus berikutnya dari siklus I tindakan 1 sampai dengan siklus IV tindakan 3. Hasil analisis tersebut digunakan untuk mengambil kesimpulan ada tidaknya peningkatan kemampuan siswa dalam membaca Al Qur’an melalui tambahan pelajaran Al-Qur’an.








BAB IV
HASIL PENELITIAN

A.    Gambaran Selintas tentang Setting
         Setting yang dipakai dalam penelitian dengan model proses, dalam satu model ditetapkan dengan tiga proses penelitian atau siklus, yang masing-masing siklus terdiri dari tiga tindakan. Tindakan pertama adalah penanaman pengetahuan mempelajari Al Qur’an melalui koinsep, prinsip, teknik iqro’ dan sebagainya. Tindakan ketiga adalah memberi motivasi dan tugas membaca dan menulis Al Qur’an. Dalam setiap siklus terdapat empat tahapan yaitu : melaksanakan tindakan, memantau proses belajar mengajar, mengevaluasi hasil pemantauan, dan mengadakan refleksi, meneliti kembali tindakan yang telah dilakukan. Semua ini terus dilakukan berdaur ulang. Sebelum melangkah ke siklus selanjutnya perlu memperhatikan dan mengacu pada keberhasilan siklus sebelumnya dan berikutnya. Setiap tindakan dalam suatu siklus, dapat meningkatkan kemampuan membaca Al Qur’an dan penambahan frekuensi dibandingkan dengan siklus sebelumnya.

B.     Uraian Penelitian Secara Keseluruhan
         Kegiatan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan mulai tanggal 2 September 2003 dengan diawali kegiatan observasi sebagai penjajagan untuk memperoleh informasi dan gambaran terhadap permasalahan serta tindakan yang telah dilakukan oleh guru kemudian dilanjutkan dengan membahas hasil-hasil observasi, merencanakan dan menetapkan tindakan.
         Rancangan penelitian ini menggunakan model proses. Proses penelitian putaran I atau siklus I dilaksanakan pada tanggal 21 s/d 26 Juli 2008, siklus II dilaksanakan pada tanggal 4 s/d 9 Agustus 2008, siklus III dilaksanakan pada tanggal 19 s/d 23 Agustus 2008 dan siklus IV dilaksanakan pada tanggal 1 s/d 6 September 2008.
           Dan penelitian ini dilaksanakan di luar jam pelajaran formal yaitu 2 kali seminggu pada setiap hari Rabu  mulai jam 12.00 WIB s/d 13.30. WIB dan hari Jumat 13.30 WIB s.d. 15.00 WIB.  Adapun rencana tindakan guru, kepala sekolah dan peneliti dalam setiap siklus sebagai berikut :
Tabel 1. Rencana Tindakan
Tindakan Guru
Tindakan Siswa
Tindakan Penelitian
Siklus I
1.      Melaksanakan tindakan
a.    Menanamkan pengetahu-an tentang pentingnya mempelajari Al Qur’an (konsep, prinsip, teknik/ iqro’, dsb.) dilaksanakan pada minggu I.
b.   Menerapkan pembelajaran dengan mengoptimalkan penggunaan metode Karimah dan menerapkan belajar kreatif tingkat I mengguna kan metode drill. Dilaksanakan pada waktu istirahat I dan II
c.    Memberi motivasi dan tugas membaca/menulis Al Qur’an.
2.         Memantau proses belajar mengajar. Sambil mengajar mengamati tindakannya dan mencatat peristiwa yang di-anggap penting untuk me-ngetahui tingkat perubahan terhadap tindakan yang dilakukan.


Memahami dan mulai merespon tentang pentingnya membaca Al Qur’an dan makna-nya.

Berlatih membaca dan memahami Al Qur’an.





Termotivasi untuk membaca/menulis Al Qur’an.



Mengamati dengan menggunakan lembar pengamatan tentang pentingnya mempe-lajari Al Qur’an.

Mengamati dan men-catat kemampuan siswa membaca Al Qur’an.




Mengamati dan men-catat tindakan/reaksi siswa.
Memantau perilaku guru dan murid untuk mengetahui tingkat ke-tercapaiannya tujuan, dampaknya dan efekti-fitas perbaikan pembe-lajaran.

3.      Mengevaluasi hasil peman-tauan. Mengolah data yang dapat direkam dan memakai-nya serta menentukan keber-hasilan dan pencapaian tujuan tindakan ataupun hasil sampingan dari pelaksanaan tindakan.
4.      Mengadakan refleksi I. Meneliti kembali tindakan yang telah dilakukan.



Mengolah data dan memaknainya serta menentukan tingkat keberhasilan tindakan.




Membantu guru untuk merefleksikan diri me-ngenai tindakan kelas yang telah dilakukan.
Siklus II
1.      Merumuskan tindakan baru. Berdasarkan temuan pada tahap evaluasi tentang bentuk perubahan yang perlu ditindaklanjuti, menyusun rancangan tidnakan.
2.      Melaksanakan tindakan. Mengulang tindakan pada siklus I dan memberi pe-nekanan pada pengoptimalan penggunaan emtode Karimah dan drill serta penerapan belajar kreatif.









Lebih baik bacaannya dan tulisannya serta mencoba untuk mengembangkan imajinasinya.

Bersama-sama meran-cang tindakan baru berdasar hasil evaluasi tentang perubahan yang perlu ditindaklanjuti.

Mengamati dan men-catat tindakan guru dan tanggapan murid.


3.      Mengawasi hasil pemantauan
a.       Mengolah data sebelum dan setelah tindakan.
b.      Membandingkan perubahan setelah dan sebelum tindakan.
c.       Menemukan bentuk-bentuk perubahan yang perlu ditindaklanjuti.
d.      Mengadakan refleksi II. Meninjau kembali tentang apa yang telah dilakukan.



Mengolah data dan me-maknainya, menentu-kan tingkat perubahan tindakan.




Membantu guru untuk merefleksikan diri.
Siklus III
1.      Merumuskan tindakan baru. Merencanakan mengulang tindakan pada siklus II dan mempertajam penerapan belajar kreatif.
2.      Melaksanakan tindakan.
3.      Mengevaluasi hasil tindakan.
4.      Mengadakan refleksi.






Baik bacaan, tulisan dan pemahamannya tentang Al Qur’an.

Memberikan pertim-bangan tindakan yang perlu dipertajam dan kemungkinan tindakan baru.
Mengamati dan men-catat hal-hal yang terjadi.
Mengolah dan memak-nai data.
Membantu guru untuk merefleksi dan memacu guru untuk selalu merefleksi diri setiap melakukan proses belajar dan mengajar.

         Adapun kegiatan dan pengamatan yang dilakukan peneliti dalam setiap siklus adalah sebagai berikut :
a.       Kegiatan Guru : Guru kelas III sebagai aktor utama dalam penelitian tindakan kelas ini melakukan serangkaian tindakan yaitu menanamkan pentingnya membaca Al Qur’an dan memahami maknanya dengan meminta siswa untuk belajar membaca Al Qur’an di rumah.
Guru memberikan stimulus bahwa orang yang membaca Al Qur’an akan mendapat pahala dari Allah SWT dan masuk surga. Disamping itu guru menyiapkan rencana pembelajaran yang memungkinkan siswa mampu membayar ayat Al Qur’an dengan metode iqro’ dan belajar kreatif.
Pada waktu melakukan tindakan, guru juga merekam apa yang telah dilaku-kan dan reaksi siswa dengan menggunakan lembar pengamatan dan catatan-catatan kecil tentang peristiwa yang terjadi. Pada waktu refleksi guru melihat kembali apa yang telah dilakukan dengan bantuan peneliti yang lain dan hasil rekaman tindakan yang telah dilakukan baik dengan catatan, lembar pengamatan atau memutar kembali rekaman pita kaset dan bersama-sama dengan peneliti yang lain berdiskusi dan menyusun rencana tindakan untuk siklus berikutnya.
b.      Kegiatan siswa : Siswa sebagai subyek yang dikenai tindakan diharapkan tumbuh dan mampu membaca ayat Al Qur’an, mengikuti dan mengadakan reaksi terhadap setiap tindakan guru. Siswa mempelajari Al Qur’an di rumah kemudian menceritakan pengalamannya. Serta kesulitan yang dialami yang nantinya dapat dicari jalan pemecahannya dan akhirnya mampu membaca Al Qur’an dengan baik dan benar.
c.       Kegiatan peneliti yang lain: pada waktu guru memberikan tindakan, peneliti yang lain secara bergantian (dua orang – dua orang) melakukan pengamatan dengan menggunakan lembar pengamatan dan mencatat reaksi siswa terhadap tindakan guru. Peneliti pada waktu kegiatan refleksi membantu guru untuk merefleksi dengan memberi masukan atau cermin terhadap tindakan yang telah dilakukan. Peneliti juga bersama dengan guru berdasar-kan hasil refleksi menyusun rencana tindakan untuk siklus berikutnya.
d.      Kegiatan Kepala Sekolah : Memberikan pembinaan dan masukan kepada guru dan peneliti yang lain dalam setiap tindakan, agar peneliti yang lain dalam setiap tindakan, agar penelitian yang dilakukan sesuai dengan sasaran yang diinginkan. Pemantauan yang dilakukan oleh peneliti pada saat guru melakukan tindakan untuk setiap siklus dengan menggunakan lembar pengamatan dan catatan untuk merekam reaksi siswa dan tindakan guru.
Lembar pengamatan digunakan untuk mengkafer frekuensi siswa dalam membaca ayat Al Qur’an, sedangkan catatan dipergunakan untuk mencatat reaksi siswa dan kesulitan yang muncul. Setiap siklus diakhiri dengan tahapan refleksi. Peneliti terlibat dalam kegiatan pemaknaan dan pengem-bangan serta membantu guru dalam kegiatan refleksi.
         Data yang diperoleh dianalisis deskriptif prosentase dan untuk menge-tahui perubahan peningkatan siswa dalam membaca Al Qur’an dilakukan dengan membandingkan tindakan sebelumnya. Kemudian dibahas bersama dengan harapan masing-masing akan dapat mengungkap tindakan yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari Al Qur’an. Dari hasil tersebut ditindaklanjuti dengan upaya pengembangan pada tindakan-tindakan yang mungkin dapat ditindaklanjuti dan dikembangkan.
         Jika rencana tindakan berdasarkan pemaknaan dan pengembangan tidak menghasilkan perubahan yang dapat menumbuhkan kemampuan siswa untuk membaca Al Qur’an, maka rencana tindakan untuk siklus berikutnya perlu direvisi dengan tindakan baru yang dapat menghasilkan perubahan yang dapat  meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca dan mempelajari Al Qur’an dengan baik dan benar.

C.    Penjelasan Per Siklus
1.      Siklus I
Tindakan I. Guru menanamkan pentingnya dapat membaca Al Qur’an akan mendapat pahala dari Allah SWT dan dapat masuk surga.
Pada tindakan ini guru menuliskan QS. Ad-Dhuha ayat 1 s.d. 11  di papan tulis, kemudian membacakannya serta murid mendengarkan dengan seksama.
Tindakan II. Menyusun rencana pembelajaran dan melaksanakannya dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menirukan ucapan guru tentang bacaan QS Ad-Dhuha ayat 1 s.d. 11   secara bersama-sama dan satu persatu.
Tindakan III. Memotivasi siswa baik secara verbal maupun nonverbal (senyuman, anggukan dan kata bagus atau benar).
2.      Siklus II
Tindakan I : Menanamkan pentingnya membaca Al Qur’an dan menerang-kan arti serta maksud bacaan QS. At Tiin ayat 1 s.d. 8 dan menugaskan siswa untuk mempelajari dan mempersiapkan materi untuk pertemuan berikutnya.
Tindakan II. Merencanakan pembelajaran dan melaksanakan dengan metode Karimah, drill dan demonstrasi serta memberi kesempatan kepada siswa untuk membaca QS. At Tiin ayat 1 s.d. 8   satu persatu.
Tindakan III. Memberi motivasi dengan memberi nilai kepada siswa yang telah selesai membaca QS. At Tiin ayat 1 s.d. 8
3.      Siklus III
Tindakan I. Mengingatkan pentingnya membaca Al Qur’an dengan baik dan benar, menugaskan kepada siswa untuk membaca dan mengartikan QS.Ash-Shof ayat 1 s.d. 10 serta menerangkan bacaan yang mengandung tajwid.
Tindakan II. Merancang dan melaksanakan pembelajaran membaca QS. Ash-Shof ayat 1 s.d. 10  dengan mengoptimalkan penggunaan metode KARIMAH, drill dan demonstrasi. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mendemons-trasikan bacaan Al Qur’an serta belajar kreatif (satuan pelajaran kreatif, terlampir).
Tindakan III. Pemberian motivasi dengan memberi pujian dan nilai kepada siswa yang telah selesai membaca dan mengetahui artinya.
4.      Siklus IV
Tindakan I. Mengingatkan pentingnya membaca Al Qur’an dan meminta kepada siswa untuk membaca materi pelajaran yang telah diberikan satu persatu.
Tindakan II. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk berlatih membaca ayat Al Qur’an dan merancang serta melaksanakan pembelajaran dengan sistem CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), kemudian memberi nilai dan pujian kepada siswa yang telah selesai membaca Al Qur’an.
Tindakan III. Memberikan motivasi berupa pujian dan rangsangan agar siswa senang membaca Al Qur’an, sehingga dapat dilaksanakan setiap saat dan setiap ada kesempatan, sehingga membaca Al Qur’an merupakan bagian dari kebutuhan hidupnya.

D.    Proses Menganalisis Data
         Setelah melaksanaakan dan menyelesaikan tindakan pada setiap siklus, tim peneliti melakukan diskusi dan mengadakan refleksi. Peneliti dapat memberikan laporan hasil pantauannya sehingga dapat direfleksi pembelajaran yang telah dilakukannya. Dari hasil pantauan tersebut dapat dilihat frekuensi siswa dalam membaca ayat Al Qur’an yang kemudian dapat dilakukan proses analisis data.
Tabel 2.  Frekuensi Membaca Ayat Al Qur’an Siswa Kelas 7 D SMP Negeri 1 Ngemplak Kabupaten Boyolali
Siklus
Tindakan
Membaca
Tidak dapat
Dapat
Dapat/faham
I
1
2
3
36
30
28
4
10
12
3
6
9
Rata-rata
-
31
8
6
II
1
2
3
26
22
19
14
18
21
12
16
18
Rata-rata
-
22
17
15
III
1
2
3
15
12
8
25
28
32
22
25
28
Rata-rata
-
11
21
25
IV
1
2
3
5
3
1
35
37
39
33
36
38
Rata-rata
-
3
37
39

         Dari tabel 2 dapat dilihat hasil tindakan pada setiap siklus. Pada siklus I dari 40 siswa ada 36 siswa yang tidak dapat membaca ayat Al Qur’an, berarti ada 90%. Yang dapat membaca ayat Al Qur’an ada 4 siswa berarti ada 10% dan yang sudah dapat membaca dan faham ayat Al Qur’an ada 3 siswa berarti ada 7,5%.
         Setelah diadakan diskusi dan guru mengadakan refleksi terhadap tindakannya ditemukan bahwa siswa kurang latihan membaca Al Qur’an di rumah. Materi membaca Al Qur’an yang diberikan di sekolah sangat kurang, sehingga materi yang diterima siswa juga kurang sekali disamping minat baca Al Qur’an siswa yang rendah. Berdasarkan hasil analisis dan refleksi tersebut disusun rencana pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan memahami ayat Al Qur’an.
         Pada siklus I tindakan ke 2, dari 40 siswa yang tidak dapat membaca ayat Al Qur’an menurun menjadi 30 siswa berarti 75 % atau turun 15%. Yang dapat dan faham membaca ayat Al Qur’an ada 6 siswa berarti 15 % atau naik7,5 %. Penguasaan membaca siswa nampak ada kelebihan, karena guru telah membacakan terlebih dahulu dan siswa menirukannya, kemudian guru memberi kesempatan kepada siswa untuk membaca bersama dan sendiri-sendiri.
         Berdasarkan hasil analisis dan refleksi tersebut, dirancang untuk tindakan berikutnya, tetap pada rancangan tindakan 1 dan 2 ditambah dengan pemberian motivasi (senyum, anggukan, dan kata bagus/benar) pada setiap siswa yang telah selesai membaca ayat Al Qur’an. Untuk tindakan ke 3 dari siklus I yang tidak dapat membaca ayat Al Qur’an menurun lagi menjadi 28 siswa 70 % atau turun 5 %. Yang dapat membaca Al Qur’an ada 12 siswa (30 %) atau naik 5,93%, yang dapat dan faham membaca ayat Al Qur’an ada 9 siswa (22,5 %) berarti naik 5,19%.
         Rata-rata siswa dalam membaca Al Qur’an pada siklus I, yang tidak dapat membaca Al Qur’an adalah 31 siswa (77,5 %), yang dapat membaca ayat Al Qur’an ada 8 siswa (20 %) dan yang dapat/faham membaca ayat Al Qur’an ada 6 siswa (15 %). Meski demikian, pada siklus I ini sudah mulai nampak adanya kemajuan/peningkatan siswa dalam membaca Al Qur’an.
         Setelah siklus I berakhir, dilaksanakan diskusi dan refleksi untuk menyusun tindakan pada siklus II. Dalam refleksi tersebut dapat diungkapkan bahwa guru mersa masih belum memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca ayat Al Qur’an yang lebih banyak lagi. Oleh karena itu pada siklus I, dengan lebih memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar membaca dan memahami Al Qur’an dengan pengoptimalan metede iqro’.
         Dari tabel 2 dapat dilihat untuk siklus II tindakan I, bahwa yang tidak dapat membaca ayat Al Qur’an 26 siswa (65%), yang dapat membaca 14 siswa (35 %) dan yang dapat dan faham membaca ayat Al Qur’an 12 siswa (30 %). Untuk tindakan 2, yang tidak dapat membaca 22 siswa (55 %), yang dapat membaca 18 siswa (45 %), yang dapat/faham membaca ayat Al Qur’an ada 16 siswa (40 %). Tindakan 3, yang tidak dapat membaca 19 siswa (47,5 %), yang dapat membaca 21 siswa (52,5 %), yang dapat/faham membaca ayat Al Qur’an 18 siswa (45 %).
         Jadi pada siklus II ini yang tidak dapat membaca ayat Al Qur’an turun 17,5  % dan yang dapat membaca naik 17,5  %, serta yang dapat/faham naik 15 %. Pencapaian hasil penumbuhan ini berdasarkan refleksi guru selaku aktor utama dalam penelitian ini masih merasa belum menyiapkan permasalahan yang dihadapi siswa terutama dalam menyiapkan permasalahan yang dihadapi siswa terutama dalam melaksanakan tindakan penerapan metode membaca Al Qur’an. Sehingga masih terdapat siswa yang belum dapat membaca ayat Al Qur’an dengan baik dan benar. Oleh karena itu setelah diadakan diskusi dan refleksi, direncanakan dilaksanakan siklus III.
         Hasil dan analisis siklus III yaitu pada tindakan I, siswa yang tidak dapat membaca ayat Al Qur’an ada 15 siswa (37,5 %), yang dapat membaca 25 siswa (62,5 %), dan yang dapat/faham membaca ada 22 siswa ( 55 %). Pada tindakan 2, yang tidak dapat membaca ada 12 siswa (30 %), yang dapat membaca 28 siswa (70 %), yang dapat/faham dalam membaca ada 25 siswa (62,5 %). Pada tindakan 3, yang tidak dapat membaca ada 5 siswa (12,5 %), yang dapat membaca 35 siswa (87,5%), dan yang dapat/faham ada 33 siswa (82,5 %).
         Jadi pada siklus III ini yang tidak dapat membaca Al Qur’an turun 25 % dan yang dapat membaca Al Qur’an naik 25 %, serta yang dapat/faham dalam membaca Al Qur’an naik 27,5 %, yang disebabkan karena guru mengoptimal-kan metode dan pembimbingannya.
         Pada siklus IV diperoleh hasil yaitu tindakan I, jumlah siswa yang tidak dapat membaca Al Qur’an sebanyak 5 siswa (12,5 %), yang dapat membaca 35 siswa (87,5 %), dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 33 siswa (82,5%). Pada tindakan 2, siswa yang tidak dapat membaca Al Qur’an 3 siswa (7,5%), yang dapat membaca 37 siswa (92,5%), dan yang sudah dapat/ faham ada 36 siswa (90 %). Sedangkan pada tindakan 3, yang tidak dapat membaca Al Qur’an ada 1 siswa (2,5 %), yang dapat membaca 39 siswa (97,5 %), dan yang dapat/faham ada 39 siswa (97,5 %).
         Dengan demikian mulai dari siklus I tindakan 1 sampai dengan siklus IV tindakan 3 siswa yang tidak dapat membaca Al Qur’an 36 siswa menjadi 1 siswa, berarti mengalami penurunan 87,5 %, sedangkan siswa yang dapat membaca Al Qur’an dari 4 siswa menjadi 39 siswa, berarti mengalami peningkatan 87,5 %, sedangkan siswa yang dapat/faham membaca Al Qur’an dari 3 siswa menjadi 38 siswa, berarti juga mengalami peningkatan 87,5 %.
         Untuk mengetahui lebih jelas tentang peningkatan siswa dalam membaca Al Qur’an dapat dilihat dalam tabel berikut ini.
Tabel 3.  Prosentase Membaca Al Qur’an Siswa Kelas 7  SMP  Negeri 1 Ngemplak Kabupaten Boyolali
Siklus
Membaca
Tidak dapat
Dapat
Dapat/faham
I
II
III
IV
77,5
55
27,5
  7,5
20
42,5
70
92,5
  15
37,5
62,5
97,5



         Dari tabel tersebut di atas dapat digambarkan histogram sebagai berikut :
Siklus
Gambar 2. Histogram Persentase tidak dapat membaca.
Siklus
Gambar 3. Histogram Persentase dapat membaca.
Siklus
Gambar 4. Histogram Persentase dapat/faham membaca.
E.     Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan
         Dari hasil pengumpulan data yang kemudian dianalisis dengan diskripsi prosentase dan dirangkum dalam tabel dan digambarkan dalam histogram di atas, menunjukkan bahwa persentase siswa yang dapat membaca Al Qur’an mengalami peningkatan pada setiap siklus. Pada siklus I yang dapat membaca Al Qur’an 20 % dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 15 %. Siklus II yang dapat membaca Al Qur’an 42,5 % dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 37,5 %. Siklus III yang dapat membaca Al Qur’an 70 % dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 62,5 %. Siklus IV yang dapat membaca Al Qur’an 92,5% dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 97,5 %. Jadi secara keseluruhan siswa yang dapat membaca Al Qur’an mengalami peningkatan 87,5 %.
         Dari keseluruhan siklus yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa guru telah mampu mengupayakan siswa kelas VII D SMP Negeri 1 Ngemplak kabupaten Boyolali dalam membaca Al Qur’an lewat tambahan pelajaran Al Qur’an. Hal ini nampak jelas dalam tabel 3. Setiap siklus membawa dampak positif ke arah pertumbuhan/peningkatan.
           















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
         Dari hasil penelitian ini dapatlah penulis menarik kesimpulan dari hasil analisa diskripsi prosentase menunjukkan bahwa persentase siswa yang dapat membaca Al Qur’an mengalami peningkatan pada setiap siklus. Pada siklus I yang dapat membaca Al Qur’an 20 % dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 15 %. Siklus II yang dapat membaca Al Qur’an 42,5 % dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 37,5 %. Siklus III yang dapat membaca Al Qur’an 70 % dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 62,5 %. Siklus IV yang dapat membaca Al Qur’an 92,5% dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 97,5 %. Jadi secara keseluruhan siswa yang dapat membaca Al Qur’an mengalami peningkatan 87,5 %.
         Dengan demikian jika guru melakukan upaya-upaya (menanamkan pentingnya membaca Al Qur’an, pengembangan belajar kreatif dengan pengoptimalan metode KARIMAH, drill dan demonstrasi serta pemberian motivasi) untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca membaca Al Qur’an maka siswa akan dapat membaca Al Qur’an dengan baik dan benar.
         Model peningkatan kemampuan siswa dalam membaca Al Qur’an telah terbukti dapat meningkatkan persentase dan kualitas membaca Al Qur’an. Dengan demikian model ini dapat digunakan dan dikembangkan untuk membantu guru dalam memecahkan persoalan yang sejenis untuk kelas yang berbeda dengan latar belakang yang hampir sama. Perlu diadakan penelitian lanjutan tentang usaha guru dalam menjaga dan meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca Al Qur’an.

B.     Saran untuk Tindakan Lebih Lanjut
         Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian ini diberikan saran-saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi para pelaksana pendidikan khususnya guru Pendidikan Agama Islam, yaitu :
1.      Guru-guru dalam menyampaikan materi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam hendaknya mempersiapkan materi yang akan disajikan secara matang serta dapat memanfaatkan metode pengajaran yang tepat.
2.      Melalui tambahan pelajaran Al Qur’an kepada Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 1 Ngemplak diharapkan mampu menerapkan metode Karimah, drill dan demonstrasi dalam proses pembelajaran membaca Al Qur’an, mengingat bahwa dengan menggunakan metode tersebut dapat meningkatkan kemampuan membaca Al Qur’an dengan baik dan benar.
3.      Kepada peneliti lain diharapkan dapat mengkaji secara lebih dalam dan luas melalui kegiatan penelitian yang terkait dengan masalah tersebut, sehingga hasilnya dapat dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini.
        Demikianlah semoga Karya Tulis Ilmiah yang sederhana ini dapat ber-manfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya.













DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi, 1976. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, Semarang: Toha Putra.
As’ad Humam, 1994. Buku Iqro’ Cara Cepat Membaca Al Qur’an, edisi revisi, Yogyakarta: AMM (Angkatan Muda Masjid-Mushola).
Bimo Walgito, 1985. Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta: Yasbit.  Fak. Psikologi UGM.
Budiyono, 1995. Beban Tugas Guru dan Kualitas Proses Belajar Mengajar, Laporan Penelitian.
Departemen Agama RI. 1989. Al Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Yayasan Penyelenggaraan Penterjemahan Al Qur’an.
Depdikbud RI, 1993. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke 2, Jakarta: Balai Pustaka. 
Depag RI. 1993. Bimbingan Membaca Al Qur’an. Jakarta: Dirjend. Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.
Depag RI. 1993/1994. Petunjuk Pelaksanaan Kurikulum/GBPP Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Tahun 1994. Jakarta: Dirjend Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.
Fahd Bin Abdurrahman Ar Rumi, Terjemahan Amirul Hasan dan Muhammad Halagi, 1996. Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Titian Ilahi.
Hadari Nawawi, 1987. Metode Penelitian Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University.
Mahmud Yunus, 1981. Metodik Khusus Bahasa Arab. Jakarta: PT. Hilda Karya.
Piet A. Sehertian, 1994. Profil Pendidikan Profesional, Yogyakarta: Andi Ofset.
Raka Joni T. 1980, Pengembangan Kurikulum IKIP/FIP/FKG Suatu Kasus Pen-didikan Berdasar Kompetensi. Jakarta, Depdikbud, P3G.
Salim Bahreusyi. 1986. Terjemahan Riadus Sholihin II. Bandung: Al Ma’arif.
Soedijarto, 1993. Memantapkan Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Gramedia, Widiasarana Indonesia.
Suharsimi Arikunto, 1993. Prosedur Penelitian. Jakarta: Bina Aksara.
Sutrisno Hadi, 1983. Metodologi Research II. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fak. Psikologi UGM.
Syekh Ahmad Al Basyuni, 1994. Syarah Hadits. Bandung: Trigenda Karya.
Winarno Surahmad, 1989. Pengantar Penelitian Ilmiah Metode Teknik. Bandung: Tarsito.





















LAMPIRAN
INSTRUMEN PENELITIAN

 PENINGKATAN KEMAMPUAN BACA TULIS AL QUR’AN
DENGAN METODE KARIMAH

Hari dan tanggal    :                                                   Kelas               :
Mata Pelajaran       :                                                   Jumlah siswa   :
Waktu/Jam             :                                                   Laki-laki         :
Guru                       :                                                   Perempuan      :
Pengamat/Peneliti  :
 


PETUNJUK :
          Lingkarilah bilangan yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya pada pertanyaan-pertanyaan di bawah ini !
1.      Berapa kali guru memberi kesempatan pada murid untuk membaca ayat Al Qur’an ?
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
2.      Berapa siswa yang berani membaca ayat Al Qur’an di papan tulis ?
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
3.      Berapa siswa yang sering membaca ayat Al Qur’an ?
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
4.      Berapa siswa yang belum dapat membaca ayat Al Qur’an ?
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
5.      Berapa siswa yang dapat membaca ayat Al Qur’an ?
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
6.      Berapa siswa yang sudah mahir membaca Al Qur’an ?
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
7.      Berapa siswa yang merasa sulit membaca ayat Al Qur’an ?
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
8.      Berapa jam waktu yang digunakan menambah pelajaran Al Qur’an?
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
PETUNJUK
Jawablah pertanyaan di bawah ini sesuai dengan keadaan yang sebenarnya terjadi !
9.      Metode apakah yang dipakai guru dalam mengajar Al Qur’an ?
Jawab : ......
10.  Bagaimana gairah siswa dalam mempelajari Al Qur’an ?
Jawab : ......
11.  Bagaimana keadaan siswa apabila guru sedang melaksanakan tindakan ?
Jawab : ......
12.  Bagaimana situasi pada waktu proses belajar mengajar berlangsung ?
Jawab : ......
13.  Apakah ada peningkatan kemampuan siswa dalam mempelajari/membaca Al Qur’an ?
Jawab : ......
14.  Untuk membantu dalam observasi kegiatan siswa dalam membaca Al Qur’an berilah tanda Ö pada kolom yang telah disediakan sesuai dengan keadaan siswa!
Nama Siswa
Tindakan
Membaca
Tidak dapat
Dapat
Dapat/faham
A
1
2
3



B
1
2
3



C
1
2
3



Jumlah









PROGRAM SATUAN PELAJARAN


Mata Pelajaran         :  Pendidikan Agama Islam
Pokok Bahasan        :  Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11, Surat At Tiin ayat 1 s.d 8 dan Surat Ash-Shof ayat 1 s.d 10
Sub Pokok Bahasan :  3.1.1. Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11 tentang larangan menghina anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta dan perintah menyebut-nyebut nikmat yang diberikan Allah sebagai tanda bersyukur.
                                    3.1.2.  Al Qur’an At Tiin ayat 1 s.d .8 tentang perintah larangan menghina anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta dan perintah menyebut-nyebut nikmat yang diberikan Allah sebagai tanda bersyukur.
                                    3.1.3.   Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 1 s.d 10 tentang larangan menghina anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta dan perintah menyebut-nyebut nikmat yang diberikan Allah sebagai tanda bersyukur.
Kelas/Semester         :  VII/1
Waktu                      :  4 jam pelajaran (2x pertemuan).

I.       Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Siswa mampu membaca, menyalin, mengartikan dan menyimpulkan kandungan Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11 tentang larangan menghina anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta dan perintah menyebut-nyebut nikmat yang diberikan Allah sebagai tanda bersyukur, Al Qur’an At Tiin ayat 1 s.d .8 tentang perintah larangan menghina anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta dan perintah menyebut-nyebut nikmat yang diberikan Allah sebagai tanda bersyukur, Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 1 s.d 10 tentang larangan menghina anak yatim dan menghardik orang-orang yang minta-minta dan perintah menyebut-nyebut nikmat yang diberikan Allah sebagai tanda bersyukur.
 Tujuan Instruksional Khusus (TPK)
Setelah proses belajar mengajar siswa diharapkan dapat :
Pertemuan I
1.      Membaca dengan fasih . Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11
2.      Menyalin dengan baik dan benar Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11.
3.      Mengartikan dengan benar Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11
4.      Menyimpulkan Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11
Pertemuan II
1.      Membaca dengan fasih Al Qur’an At Tiin ayat 1 s.d .8
2.      Menyalin dengan baik dan benar Al Qur’an At Tiin ayat 1 s.d .8
3.      Mengartikan dengan benar Al Qur’an At Tiin ayat 1 s.d .8
4.      Menyimpulkan Al Qur’an At Tiin ayat 1 s.d .8
Pertemuan III
1.      Membaca dengan fasih Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 1 s.d .5
2.      Menyalin dengan baik dan benar Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 1 s.d  5.
3.      Mengartikan dengan benar Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 1 s.d  5.
4.      Menyimpulkan Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 1 s.d 5.
Pertemuan IV
1.      Membaca dengan fasih Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 6 s.d 10.
2.      Menyalin dengan baik dan benar Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 6 s.d 10.
3.      Mengartikan dengan benar Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 6 s.d 10.
4.      Menyimpulkan Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 6 s.d 10.
II.    Materi Pelajaran
Pertemuan I
1.      Bacaan dan salinan Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11
2.      Arti dan kesimpulan Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11.
Pertemuan II
1.      Bacaan dan salinan Al Qur’an At Tiin ayat 1 s.d .8
2.      Arti dan kesimpulan Al Qur’an At Tiin ayat 1 s.d .8
Pertemuan III
1.      Bacaan dan salinan Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 1 s.d 5
2.      Arti dan kesimpulan Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 1 s.d 5.
Pertemuan IV
1.      Bacaan dan salinan Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 6 s.d 10
2.      Arti dan kesimpulan Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 6 s.d 10.
III. Kegiatan Belajar Mengajar
1.      Pendekatan : Pembiasaan, Pengalaman, Fungsional, Rasional.
2.      Metode : Ceramah, resitasi, latihan dan demonstrasi.
Langkah-langkah :
Pertemuan I
1.      Guru menulis  di papan tulis, siswa menyalin dalam buku tulis masing-masing.
2.      Guru membacakan, siswa menirukan berulang-ulang.
3.      Mengartikan Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11
4.      Menyimpulkan Al Qur’an Surat Ad-Dhuha ayat 1 s.d 11.
Pertemuan II
1.      Guru membacakan  yang telah ditulis di papan tulis, siswa menulis dan menirukan bacaan yang telah disampaikan secara berulang-ulang.
2.      Guru mengartikan dan menyimpulkan Al Qur’an At Tiin ayat 1 s.d .8
3.       Siswa menulis-kan dalam buku tulisnya masing-masing.
Pertemuan III
1.      Guru menuliskan kemudian membacakan , siswa menyalin kemudian menirukan secara berulang-ulang.
2.      Guru mengartikan kemudian menyimpulkan Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 1 s.d 5
3.      Siswa menuliskan dalam buku tulisnya masing-masing.
Pertemuan IV
1.      Guru menuliskan di papan tulis dan membacakan Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 6 s.d 10
2.       Siswa menyalin dan menirukan secara berulang-ulang.
3.      Guru mengartikan dan menyimpulkan Al Qur’an Surat Ash-Shof ayat 6 s.d 10
4.      , Siswa menuliskan dalam buku masing-masing.
IV. Sumber
1.      Al Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI.
2.      Buku Paket PAI Jilid I, Depag RI.
3.      Buku Materi Pendidikan Agama Islam SMP Negeri l Ngemplak
V.    Evaluasi
1.      Prosedur : Pos Tes.
2.      Alat Evaluasi : Tes lesan dan tertulis.

               Mengetahui
            Kepala Sekolah                                                         Guru Mata Pelajaran


      ___________________                                              ___________________
      NIP.                                                                            NIP.

















 
 PENINGKATAN KEMAMPUAN BACA TULIS AL QUR’AN
DENGAN METODE KARIMAH SISWA
KELAS VII D SMPN I NGEMPLAK BOYOLALI
TAHUN PELAJARAN 2008/2009





Oleh :
Drs. FATHUR ROCHIM,SPDI,MSI
NIP.131832846


PANGKAT/GOL.RUANG       : PEMBINA IV/a
UNIT KERJA                            : SMP NEGERI 1 NGEMPLAK
KABUPATEN                            : BOYOLALI










Judul Karya Tulis     :         PENINGKATAN KEMAMPUAN BACA TULIS AL   QUR’AN DENGAN METODE KARIMAH SISWA KELAS VII D SMP NEGERI I  NGEMPLAK KABUPATEN BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2008/2009

Nama Penulis           :        Drs. FATHUR ROCHIM,SPDI,MSI
NIP                          :        131832846
Tugas Pokok            :        Guru Mapel Pendidikan Agam Islam
Unit kerja                 :        SMP NEGERI I  NGEMPLAK
Alamat                     :        Ngeserep, Ngemplak, Boyolali
                                          Telp.(0271)780420






                                                                    Ngemplak, 25 September  2008
                                                                                 Kepala Sekolah
                                                                         SMP Negeri I Ngemplak




                                                                          Drs. HARTOKO,MM.
                                                                                NIP.131768561



ii
 
 

ABSTRAK

Fathur Rochim :  PENINGKATAN KEMAMPUAN BACA TULIS AL-QUR'AN DENGAN METODE KARIMAH SISWA KELAS 7 D SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1 NGEMPLAK TAHUN 2008/2009.

Permasalahan pokok yang akan dipecahkan lewat penelitian tindakan kelas ini adalah : Usaha guru dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur'an. Tujuannya supaya siswa dapat membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar. Hipotesis tindakannya adalah : jika guru melaksanakan tambahan pelajaran membaca Al-Qur'an maka siswa dapat membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar.
Penelitian ini merupakan tindakan guru untuk memperbaiki proses pengajaran pendidikan agama Islam terutama dalam membaca ayat Al-Qur'an di kelas 3 SMP Negeri 1 Ngemplak kabupaten Boyolali dan aktor utamanya adalah guru pendidikan agama Islam kelas 3. penelitian dilakukan dalam 4 siklus dan meliputi 4 tahapan yaitu : observasi, perencanaan untuk siklus berikutnya.
Setiap siklus terdiri dari 3 tindakan yaitu : penanaman pentingnya membaca Al-Qur'an, pengembangan belajar kreatif dengan mengoptimalkan penggunaan metode iqro', drill, dan demontrasi, dan pemberian motivasi (pujian). Untuk memantau status kemajuan siswa dalam membaca Al-Qur'an serta merekam tindakan guru dan reaksi siswa menggunakan alat bantu lembar pengamatan dan catatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase siswa yang dapat membaca Al-Qur'an mengalami peningkatan pada setiap siklus. Pada siklus I yang dapat membaca Al Qur’an 20 % dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 15 %. Siklus II yang dapat membaca Al Qur’an 42,5 % dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 37,5 %. Siklus III yang dapat membaca Al Qur’an 70 % dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 62,5 %. Siklus IV yang dapat membaca Al Qur’an 92,5% dan yang dapat/faham membaca Al Qur’an 97,5 %. Jadi secara keseluruhan siswa yang dapat membaca Al Qur’an mengalami peningkatan 87,5 %.
iii
 
Dengan demikian jika guru melakukan upaya-upaya (menanamkan pentingnya membaca Al-Qur'an, pengembangan belajar kreatif dengan pengoptimalan metode Karimah, drill dan demonstrasi serta pemberian motivasi) untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur'an maka siswa akan dapat membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar.
Model peningkatan kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur'an telah terbukti dapat meningkatkan persentase dan kualitas membaca Al-Qur'an. Dengan demikian model ini dapat digunakan dan dikembangkan untuk membantu guru dalam memecahkan persoalan yang sejenis untuk kelas yang berbeda dengan latar belakang yang hampir sama. Perlu diadakan penelitian lanjutan tentang usaha guru dalam menjaga dan meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur'an.
iv
 


 
KATA PENGANTAR



            Dengan mengucapkan syukur kepada Alloh SWT. Penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah dengan selamat. Karya tulis ini dibuat/disusun untuk melengkapi  persyaratan sebagai peserta Lomba Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Departemen Pendidikan Nasional
            Penulis menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ilmiah ini banyak pihak yang membantu dan memberikan sumbangan pemikiran, petunjuk, saran yang berguna. Untuk itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :
1.      Kepada SMP N I Ngemplak yang telah memberi izin dan dorongan untuk                  mengadakan penelitian
2.      Rekan – rekan sejawat yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dan memberikan dorongan dalam penelitian sehingga dapat berhasil dengan baik dan lancar.

Sumbangan saran yang bersifat memperbaiki, demi sempurnanya karya tulis ilmiah ini sangat diharapkan. Semoga karya tulis ini dapat berguna khususnya penulis, dan pembaca pada umumnya.

Ngemplak,   September  2008
Penulis


 
           

Drs. Fathur Rochim,SPDI,MSI   
   NIP.131832846



v
 
 

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ....................................................................................              i
LEMBAR PENGESAHAN..........................................................................             ii
ABSTRAK ....................................................................................................            iii
KATA PENGANTAR ..................................................................................             v
DAFTAR ISI.................................................................................................            vi
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................          vii
BAB     I. PENDAHULUAN.......................................................................             1
A. Latar Belakang Masalah  .........................................................             1
B. Identifikasi Masalah  ................................................................             3
C. Pembatasan dan Rumusan Masalah .........................................             3
D. Tujuan Penelitian......................................................................             4
E. Manfaat Hasil Penelitian ..........................................................             4
BAB    II. KAJIAN PUSTAKA ..................................................................             5
A. Kajian Teori  ............................................................................             5
B. Kajian Hasil Penelitian .............................................................           11
BAB   III. METODOLOGI PENELITIAN ................................................           15
A. Objek Tindakan .......................................................................           15
B. Subjek Penelitian ......................................................................           15
C. Metode Pengumpulan Data .....................................................           15
D. Metode Analisis Data...............................................................           18
E. Cara Pengambilan Kesimpulan .................................................           18
BAB  IV. HASIL PENELITIAN  ...............................................................           19
A. Gambaran Selintas Tentang Setting .........................................           19
B. Uraian Penelitian Secara Umum ..............................................           19
C. Penjelasan Per Siklus ................................................................           24
D. Proses Menganalisis Data ........................................................           26
E. Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan .............................           31
BAB   V. KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................           32
A. Kesimpulan ..............................................................................           32
B. Saran untuk Tindakan Lebih Lanjut ........................................           32
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................           34
vi
 
LAMPIRAN-LAMPIRAN ..........................................................................           36

 
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1.  Instrumen Penelitian ................................................................           36
Lampiran 2.  Program Satuan Pelajaran ........................................................           38

vii
 
 

2 komentar: